Kata mereka "Kenapa kuliah pendidikan?"

Setelah aku wisuda tahun 2022 kemarin aku jadi mengingat kembali moment-moment kuliahku yang didiskon dengan pandemi dua tahun lamanya. Semua yang aku lakukan dari sesimpel jalan ke kantin, bagian tempat duduk yang sering aku tempati, lari menuju ruang kelas, sampai hal yang menurutku perlu effort seperti mengikuti kegiatan sosial saat maba, mencoba membaur di organisasi kampus, mencoba peruntungan lomba. Sampai akhirnya ada salah satu hal yang melekat dibelakang namaku ,S.Pd.

Rasanya seperti cepat sekali empat tahun lebih yang kulalui, namun begitu kaya yang kudapat. Ada banyak hal yang ingin aku tuliskan terkait keputusan bulatku untuk melanjutkan kuliah pada saat itu. Sampai akhirnya menjadi lulusan salah satu Universitas Negeri ex-IKIP. Menjadikan aku terperangah menghadapi realita yang aku alami sendiri bukan yang aku perdengarkan, bukan yang aku bacakan, bukan pula yang aku tonton. Khususnya, pendidikan.

Aku ingat saat wisuda, mahasiswa dengan nilai IPK tertinggi berhak berbicara seperti podcast mungkin dimaksudkan untuk menginspirasi. Namun, selain obrolannya yang suntuk ada pernyataan yang sedikit membesit hatiku pandangannya terhadap harapan sebagai sarjana pendidikan. Pernyataan tersebut walaupun terdengar ada sedikit fakta didalamnya lalu memilih untuk berkarir diluar pendidikan. Menjadi lulusan S,Pd selain lowongan tidak terasa prestige selain jalur ASN-nya, kesejahterakannya dipertanyakan, sehingga memilih keluar jalur dirasa tepat “ya gakpapa…”

Let’sss continue to write, keep on track.

Entah bagaimanapun awal mula memilih melanjutkan perguruan tinggi jurusan pendidikan ujungnya yang ku dapatkan menghargai manusia lebih jauh. Menghargai peradaban salah satu bentuknya menghargai guru. Entah slogan omong kosong ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ itu ada akan langgeng aku selalu berharap adanya reformasi pendidikan bukan hanya objek pendidikan tapi juga orang-orang yang mengajar.

Menjadi sarjana pendidikan, ada rasa malu dibawah sadarku yang aku tau sebetulnya karena ucapan yang sering aku dengar ketika seseorang memutuskan jalan hidupnya ke dunia pendidikan. Contohnya saja ketika aku ke dokter ditanya “kamu kuliah dimana? Jurusan apa”. Aku menjawabnya “akuntansi” karena sebelumnya aku berpikir kalo pendidikan spesifik guru SD atau mata pelajaran di SMP SMA. Jika pembicaran berlanjut setelah tau universitas ku terkenal dengan pendidikannya, lalu bertanya lagi “oh ex-IKIP ya? Bukannya itu pendidikan ya kamu jadi guru dong nanti sayang banget kenapa ga yang murni aja?”. Responnya terdengar lebih bisa dibilang ibarat kata seperti ‘wah jurusan yang bagus’. Beda responnya dijika aku katakan “pendidikan akuntansi”, selain memperpanjang penjelasan apa itu pendidikan akuntansi lalu merembet kenapa guru kenapa ambil jurusan itu atau akhirnya orang tersebut mengasumsikan akuntansi saja. Sampai akhirnya seperti krisis identitas (cieelaahh wkwk krisis identitas ga tuh) beberapa kali aku menjawabnya “akuntansi” bukan ‘pendidikan akuntansi’ untuk menghindari intimidasi label guru.

Menjadi sarjana pendidikan, orang banyak melontarkan rasa keputusan mengambil jurusan tersebut kurang tepat. Tidak sedikit yang berkata “sayang banget kenapa masuknya pendidikan?” “kenapa ga ambil akuntansi UI?” “emang kamu mau jadi guru? (anggepan guru kurang sejahtera masa depannya)”. Sampai aku berpikir apa salah yaa, ohh jadi sebetulnya kemarin aku lebih pantas di ilmu murni, kenapa semua bilang jalan yang ku pilih sayang. Mau jadi apa nanti?

Bahkan aku pernah membuat rencana untuk pindah universitas hal utamanya bukan karena omongan mereka tapi keinginan awalku untuk menempuh ilmu ekonomi bukan lanjut akuntansi. Ternyata di jurusanku terpecah kembali menjadi dua kosentrasi pendidikan ekonomi dan pendidikan akuntansi. Masuklahhh aku ke akuntansi shay, niat ingin melenceng tidak tercapai diujung jalan. Terlebih omongan orang yang mungkin aku sedikit denial wkwkwk memang betul ada tersebit ‘iya juga yaa.. kalo aku terusin disini gimana nantinya  atau lebih baik pindah daripada beban hati’

But people will say what they want to say so. Then, in the end the person who fully take responsibility to studying is me

Tapi lambat laun pandanganku meluas, mungkin ini jalan Allah yang ditunjukkan kepadaku untuk memantapkan langkah. Kegiatan sosialku di Kalimantan Barat kala itu benar-benar membuka mataku dan pemahamanku bahwa dunia yang aku bisa aku ketahui lebih banyak lagi dan hal yang bisa aku dengarkan begitu bising. Luas. Seiring berjalannya waktu aku makin yakin banyak hal yang bisa aku dapatkan walau kata mereka pendidikan itu tak se-pristige ilmu pratik murni lainnya. Satu per satu omongan patah, menempuh jurusan pedagogik tidak sebutuk dan semalang yang mereka ucapkan. Malah terucap syukur ‘betapa beruntungnya aku’.

Sense of emotions, hal yang cukup unik menempuh jurusan pendidikan akuntansi adalah selain mempelajari ilmu akuntansi itu sendiri. Mahasiswanya juga wajib belajar ilmu pendidikan/ pedagogik. Mempelajari bagaimana cara belajar dari umur dalam kandungan sampai dewasa, mempelajari bagaimana cara individu belajar, mendengarkan dosen bercerita bagaimana budaya belajar diberbagai negara, hubungan perilaku manusia, mempelajari sejarah pendidikan. Pendidikan erat hubungannya dengan mempelajari manusia itu sendiri karena yang akan diajarkan terdapat unsur bawaan individu dan tumbuh di lingkungan yang berbeda hingga ada spontanitas ataupun hal-hal yang bisa saja dengan input yang sama timbul output yang berbeda-beda. Lalu aku teringat yang kita ajarin itu manusia punya karunia berpikir dengan akalnya bukan makhluk settingan program A = A. Cukup menarik bukan? Melihat manusia mempelajari peradaban turun menurun melalui pendidikan. Bahkan kitapun salah satunya.

More things I get, aku paham bahwa pendidikan tinggi yang ku tempuh bukan jaminan kesuksesanku bukan jaminan aku akan menjadi kaya raya tapi pendidikan adalah kesempatan yang aku pilih diantara banyak kesempatan lainnya setelah 12 tahun wajib sekolah. Banyak hal yang didapatkan selain duduk dibangku kelas melihat layar PowerPoint dan mendengarkan materi. Aku mencari hal – hal yang dulu aku inginkan walau sepertinya tidak juga aku dapatkan hahaha setidaknya telah kucoba mencari jalan diluar akuntansi itu sendiri. telah aku temui yang lebih pintar, lebih menarik, lebih cantik, lebih terkenal, lebih sering juara, lebih dianak emaskan, akan selalu ada yang lebih dari kita itu selalu menjadi fakta yang aku telan. Yang kurang dari kita pun demikian halnya. Tidak perlu khawatir kau yang punya kunci pintumu sendiri dan hanya terbuka dengan kunci yang ada digenggamanmu. Just open! Aku memutuskan mengikuti hal-hal yang bisa ku masuki dan kupelajari. Tidak perlu membawa piala, yang lain akan melakukannya. Terkadang tidak perlu terlalu keras untuk hal yang tidak menjadi berarti buat diri kita sendiri. Pada akhirnya aku bisa menikmati ‘kesibukan’ yang aku buat-buat itu. Ikutilah kelas fotograpi jika mau, mulai bergaul dengan orang baru jika mau, bergabung dengan kelas catur jika mau, hadir di seminar saham jika mau, beranikan diri ikut voluntere jika mau, coba perlombaan ilmiah jika mau, daftar kompetensi olahraga jika mau, bahkan sekedar ngang-ngong diskusi dibawah pohon taman jika mau. Pilih sesukamu.

Menjadi S,Pd ternyata mengajariku tidak semua hal berjalan seperti rencana dan terkadang itu menjadi hal baik yang patut disyukuri dengan sudut pandang yang lain (tidak buruk juga). No matter what, you will find what you searched for and you wished for!

Komentar