Tulisan ini aku buat ketika umurku sudah 23
tahun teringat rasanya tiga tahun belakangan ketika kapal sedang dipersiapkan
mengulung tali di tepi Pelabuhan siap berlayar. Ada hal yang terasa asing menuntunku
sambal berbisik “embrace yourself the person who really you are” sekaligus “I don’t
know if the world of 20’s didn’t have a map?”
Seminggu lalu aku termenung berpikir dikepala ku yang sudah cukup bising dengan angka tapi juga ruang pembaharuan yang terlihat cukup ruang tak seperti saat bangku sekolah. Apa yang aku mau? Apa harapan masa depanku? Apa yang aku inginkan? Apa peganganku? Berhari – hari aku memikirkannya bukan jawaban yang aku dapat tapi kesadaran akan kenyataan yang ku jalani sekarang. Berbeda dengan aku lima tahun lalu penuh mimpi dikepala ku rasanya kaki pun enteng saja kemanapun yang aku tuju selagi aku mau mencari jalannya, rasanya aku tau harus kemana, rasanya aku tau apa mantra semangatku. Semua terdengar optimis saat itu. Kala itu banyak hal yang aku inginkan aku ikuti. Waktuku terbuang untukku sendiri begitupula energi pikiranku. Semua kata yang kuucapkan untuk kebaikan diriku dan setiap kata yang aku perdengarkan menumbuhkan sukma. Satu sama lain kala saling menyirami.
Dua belas tahun aku sekolah ditambah dengan pendidikan universitas, peta arah penjuru semua ada ditanganku tinggal aku pilih angin mana yang akan aku ikuti. Petanya seperti sudah ada ditanganku. Namun, setelah itu tiba-tiba tintanya pudar seiring aku lulus dengan gelar akademik, katanya aku harus membuat peta versiku sendiri.
Kini rasanya waktu, energi, pikiran, kata yang sebelumnya milikku harus ku bagi dua pertiganya untuk orang lain. Tak pernah terpikir olehku hal – hal kecil apa yang aku korbankan untuk hal – hal yang baru aku dapatkan dimasa sekarang. Kini aku menghargai secuil kebaikan dan kebahagiaan yang aku ciptakan untuk diriku sendiri lebih dalam.
Seperti menjelajahi tempat baru terkadang keberuntungan datang juga keraguan juga semua tanya yang bermunculan. Mulai mendengarkan kisah orang lain bahkan aku mulai menyukai kegiatan ini, mengejutkan sekaligus mengesankan. Menjadi dewasa muda ternyata juga sebuah proses, aku membiarkan diriku tidak tau akan kepastian dimasa depan. Semua tentang doaku, mimpiku, keluargaku, pertemananku. Sometimes you don't know the answer but you just do it. Begitulah kehidupan
Temanku berucap “welcome in quarter life, enjoy”. Yang lainnya berucap “lo tuh masih muda 25 aja lohh belom, kayak umur 25 tua aja wkwkwk”
Komentar
Posting Komentar