
Judul
Buku :
Erdogan, Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki
Penulis :
Syarif Taghian
Tahun
Terbit : 2011
Penerbit :
Dar Al-Kitab Al- Arabi Damaskus - Kairo
Seorang politisi atau pemimpin
harus pintar-pintar bersiasat, lihai menggunakan sarana yang tersedia dalam
gelanggang politik, untuk kemudian meraih apa yang dicita-citakannya.Ketika
kekuasaan sudah ditangan, maka identitas harus lebih ditegaskan. Inilah yang
dilakukan oleh Recep Tayyib Erdogan, seorang politisi Turki yang berhasil
meyakinkan rakyat Turki, bahwa sekularisme yang pernah menggurita dan ekstrem
pada masa Mustafa Kemal Attaturk adalah masa kegelapan yang membuat negeri
indah ini berada dalam kendali otoritarian dan pemimpin yang mabuk dalam
kekuasaan.
Erdogan yang dibesarkan dalam
lingkungan keislaman, mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan “the Sick
Man in Europe” menjadi Negara yang sehat dan tumbuh berkembang, bahkan
diperhitungkan sebagai Negara yang mempu memberikan konstribusi dalam
menciptakan perdamaian. Disisi politik dalam negeri, Turki Erdogan berhasil
membangun ekonomi yang merakyat dan kuat dengan perencanaan yang matang,
sehingga Turki mampu menempati urutan ketujuh belas dari dua puluh negara yang
mempunyai kekuatan ekonomi terkuat.Selain mampu melakukan ‘kudeta tanpa
senjata’ dengan menumbangkan sekularisme Turki, Erdogan juga mampu melakukan
dialog dan rekonsiliasi terhadap persoalan-persoalan yang mengganjal Turki
selama ini, seperti persoalan dengan Suku Kurdi dan Bangsa Armenia. Setelah
menjabat sebagai Perdana Menteri tahun 2003,hal yang dilakukannya pertama kali
adalah menjalin perdamaian, menerbar cinta dan kasih saying ke segala arah,
mengadakan rekonsialisasi dengan Armenia, dan Azerbeijan, serta menjalin
kerjasama dengan Irak, Syiria, dan Iran. Maka tak heran jika sosok Erdogan
ialah salah seorang penerima Nobel Perdamaian karena kiprahnya dalam membangun
rekonsiliasi dan perdamaian.
Erdogan datang untuk memulai dan
mengisahkan perjalanan Republik Turki yang kedua sejak tanggal 12 September
2010. Inilah arti perkataan Erdogan ketika mengatakan “Turki telah menjadi
laksana pesawat terbang yang akan take off dan didepannya tidak ada yang
menghalanginya.” Ungkapan ini sebagai pernyataan bahwa Turki akan mengalami
babak baru yang tidak dapat dihentikan oleh siapapun.
Erdogan sendiri menyebut dirinya
sebagai “Pemimpin Religius di Negara Sekular” dan memberikan definisi baru
terhadap paham sekular, yang salah satu agendanya adalah menjaga agama dan
orang-orang yang menjalankannya, bukan memerangi.Dalam berbagai kesempatan,
Perdana Menteri Erdogan selalu menyampaikan rasa bangga dengan nilai-nilai
keislamn, dan mengungkapkan prinsip yang dianutnya didepan publik. Erdogan berdiri
didepan massa di bandara Attaturk Istanbul lalu berpidato, “Aku suka berterus
terang dan mempertahankan kemuliaan dan harga diri Turki, seperti yang
diungkapkan penyair Muhammad ‘Akif yang mengatakan, “Aku bisa lembut, Akan
tetapi aku bukan anak domba, dan aku tahu bahwa rakyatku menungguku melakukan
hal tersebut.”
Pada 26 Febuari 1954, Recep
Tayyep Erdogan dilahirkan disebuah desa kecil di Istanbul.Orang tua Erdogan
mendidik kelima putranya dengan pendidikan yang menjanjikan, terutama
pendidikan keislaman. Ketika Erdogan berumur 13 tahun, dia belajar di Sekolah
Dasar bersama anak-anak Kota Qasim yang terkenal dengan penduduknya yang kuat,
tempramen, memiliki dialeg yang menjadi kebanggaan dan kehormatan sebagaimana
Erdogan terhormat berada disana dan lulus pada tahun 1965. Ketika pelajaran
pendidikan keislaman sang guru bertanya siapa yang bisa memlakukan sholat agar
dicontoh oleh teman-temannya, Erdogan pun mengangkat tangan. Gurunya berterima
kasih dan meletakan sajadah, tetapi Erdogan menolak sholat diatas Koran
dikarenakan dilembaran Koran terdapat gambar wanita sedng berjalan.Sang gurunya
merasa heran dan takjub dengan sikap Erdogan dan memuji kecerdasan dan
kesalehannya sehngga memanggilnya dengan “Syaikh”.
Dia melanjutkan studinya ke
Sekolah Menengah Imam Hatib, disinilah Erdogan belajar fikih, akidah, dan
tajwid sehingga sedikt demi sedikit meningkatkan kemmpuannya dalam berbicara
dan befikir dan lulus tahin 1973. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Keagamaan
‘Imam Hatib’ dia melanjutkanke Universitas Marmara untuk belajar tentang
Ekonomi dan Bisnis.
Selama menempuh pendidikan
Erdogan membantu orang tuanya mencari nafkah, dia berjualan jus lemon dan
semangka di jalan-jalan kota Istanbul ketika masih Sekolah Dasar dan menengah.
Ketika ia duduk di Sekolah Menengah Atas Erdohan berjualan kue Semolia yang
terkenal di Turki. Meskipun belajar dan bekerja Erdogan tidak meninggalkan hobi
favoritnya yaitu bermain sepak bola.Erdogan selalu bermain sepak bola hingga
lulus dari universitas, sejak kecil hingga dewasa dia telah bergabung di tiga
klub sepak bola yang berbeda di Istanbuldan masuk wajib militer sebagai pasukan
cadangan. Setelah selesai dari wajib militer, dia bekerja sebagai Penasehat
Keuangan di beberapa perusahaan finance. Hal itu dilakukan Erdogan ketika belum
terjun ke duia politik sekitar tahun tujuh puluhan.
Erdogan hidup diantara dua
kekuatan yang bertentangan. Kekuatan dimasa lalu, yang dibangun Turki Utsmani
dalam beberapa abad berupa istana, masjid dan kota-kota klasik, dengan kekuatan
modern, yang terlihat dari symbol-simbol baru yang diterapkam oleh Republik
(sekular) Turki. Perkembangan Erdogan menjadi seorang pemuda saleh sangat
cepat, sesuai dengan keinginan orang tuanya yang memilih pendidikan keagamaan
yang memadukan pendidikan agama klasik dan modern.
Saat remaja, Erdogan bergabung
pada Milli Salamet Partisi(Hizb Salamah Al-Wathani) yang dipimpin oleh Necmetin
Erbakan, Bapak Partau Konservatif dan menjadi Perdana Menteri Turki pertama
yang Islami. Erdogan bertemu Erbakan sat masih duduk di bangku kuliah,
pertemuan iini membuka cakrawala berfikir Erdogan tentang politik. Dia mulai
mengenal organisasi dan belajar berpolitik bersama Partai Keselamatan Nasional.
Dan pada tahun 1975, Erdogan ditunjuk sebagai Ketua Bidang Kepemudaan partai
tersebut, yang berdiri pada tahun 1972,
Erdogan menjabat posisi tersebut sampai tahun 1980. Setelah terjadi
kudeta oleh militer pada tahun 1980 dan seluruh partai dibekukan, untuk pertama
kalinya Erdogan masuk dalam ranah hokum yang sesuai dengan otoritasnya sebagai
praktisi.. Setelah Partai Keselamatan Nasional dibubakan Erbakan pindah ke
Swiss.
Pada tahun 1983, demokrasi Turki
dipulihkan, Erdogan kembali ke dunia politik melalui Refh Partisi (Partai
Kesejahteraan) di wilyah Istanbul. Dia menjadi Ketua Partai baru ini, diwilayah
kosmopolitan Beyoglu, salah satu kota terbesar di Istanbul tahun 1984. Dan pada
tahun 1985, Erdogan menjadi ketua partai ini di wilayah Istanbul.Selanjutnya,
satu tahun kemudian dia menjadi anggota Majelis Kehormatan Partai. Dia menjadi
calon anggota Parlemen dari partai ini sebanyak 2 kali, yaitu tahun 1987 dan
tahun 1991, akan tetapi tidak terpilih. Tahun 1995, saat pemilihan umum tingkat
wilayah, Erdogan terpilih sebagai walikota untuk wilayah Instanbul Raya dan
menjadi Presiden Dewan Metropolitan Istanbul Raya. Prestasi Erdogan selama
menjadi walikota dengan menata dan memperindah kota menjadi nilai tambah dimata
masyarakat dan parlemen.
Erdogan menyatakan keluar dari
Partai Refah tahun 2001 lalu membuat partai baru yaitu Adalet ve Kalkinma
Partisi (AKP/Partai Keadilan dan Pembagunan), sejak itu dia selalu menghidari
perkara yang mencurugakan dan menggunakan ideology keislaman seperti yang
dilakukan Erbakan, sehingga membuat geram kelompok-kelompok sekular. Partai
AKP, selalu berpihak kepada keputusan orang banyak dan tidak pernah melakukan
perselisihan dengan Militer Turki dengan mengatakan “Aku akan mengikuti politik
yang jelas untuk mencapai tujuan yang dicanangkan Attaturk, yaitu mendirikan
masyarakat yang berbudaya dan modern dalam keislaman yang diyakini oleh 99%
penduduk Turki.”
Pada tanggal 4 Juli 1978, Erdogan
menikah dengan Emine, seorang militan dari “Partai Keselamatan Nasional”.Mereka
menjadi penjabat pemerintahan di Turki, meskipun jilbab tang dikenakan Ibu
Emine mengundang kemarahan pihak militer dan oposisi sekular.Pasangan ini
dikaruniai empat orang anak yaitu, Ahmad Buraq, Necmettin Bilal, Isra’, dan
Summaya.
Erdogan sangat dekat dengan orang
disekitarnya, mungkin ini salah satu
rahasia mengapa rakyat mencintainya. Sesuatu yang terpenting saat ini
membahas tentang apa yang menyebebkan Erdogan mendapat cinta orang lain.
Ø Erdogan
memiliki watak antusias dan lembut. Dia tidak hanya pembicara yang handal
tetapi pendengar yang baik
Ø Erdogan
sangat menghormati orang yang lain dan orang yang lebih tua. Ketika menjadi
tuan rumah “Konferensi Pemikiran Islam Dunia” di Istanbul tahun 1996 ia bersikeras bersalaman satu persatu dengan
seluruh tamunya.
Ø Erdogan
orang pertama yang memberikan kepercayaan kepada orang cacat saat pemerintah
mengabaikan mereka diberbagai bidang. Dia memberikan fasilitas dan keistimewaan
pada rang cacat, memberikan kursi-kursi roda dan Erdogan adalah orang pertama
mencalonkan “Lukman Ayo” dalam pemilihan umum parlemen, ia adalah seorang Tuna
Netra pertma yang duduk diparlemen sepanjang sejarah Turki
Ø Erdogan
seorang yang pemberani. Ia berani menolak proyrk yang terjadi di walikota dan
memberikan kesempatan kepada orang lain tanpa takut dengan media dan ia juga
tidak ragu mengeksekusivilla seorang pembesar, mantan Presiden Thurgut Ozal
yang tidak sesuai dengan undang-undang
Ø Erdogan
meneggakan dasar-dasar hokum, keadilan dan persamaan. Hal ini sangat jelas
ketika dia memutuskan pelaksanaan hokum kepada keponakannya sendiri yang
terlibat perdagangan narkoba di Istanbul tahun 2010.
Ø Erdogan
tidak merasa minder dengan segala kekurangannya. Oleh karena itu, ia membuat
kelompok terdiri dari professor di perguruan tinggi dan para spesialis
diberbagai bidang untuk bekerjasama dengan dirinya.
Ø Erdogan
juga berani mengambil resiko, disaat ia tidak memperdulikan media yang
menyerangnya karena ia beribadah haji dengan istrinya yang berjilbab dan
mengsekolahkan anaknya di Amerika karena larangan berjilbab di Turki.
Ø Erdogan
merasa dirinya bukan milik elit politik dan mementingkan organisasi dan
berbicara hal-hal yang tidak dimengerti rakyatnya. Ia menjadikan diri lebih
dekat dengan rakyatnya. Tahun 2006 rakyat bebas mengajukan saran dan kritik
dengan perdana menteri melalui telpon bebas pulsa.
Erdogan meningkatkan sumbangsihnya
terhadap masyarakat yang memujinya dengan apa yang menjadi kecenderungan
hatinya. Dimana ia telah berhasil mengeluarkan kota Istanbul dari berbagai
kebangkrutan, menyelesaikan problematika, seperti pemutusan listrik dan air,
serta kotoran yang merajalela di kota. Kota Istanbul yang telah berubah dari
masa sulitnya menjadi kota subur menghijau dan berhasil mengeluarkan kota
Istanbul darihutang-hutangnya yang mencapai milyaran dollar menjadi keuntungan
dan investasi senilai 12 miliyar dollar dan dengan pertumbuhan yang mencapai
7%.
Ia pun mengungkapkan rahasia
kesuksesannya itu seraya berkata, “orang-orang berkata kepada saya tentang
sebab kesuksesan saya dalam mengentaskan kota dari berbagai peroalannya. Maka
saya katakan, kami memiliki senjata yang tidak kalian miliki.Senjata itu adalah
keimanan.Kami memiliki akhlak Islam, teladan bagi umat manusia, Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam.”
Erdogan pernah berpidato,
diantaranya ia menyampaikan “Untuk selamanya, tidak mungkin anda bisa menjadi
seorang muslimm sekaligus orang yang sekular dalam waktu yang bersamaan. Mereka
selalu memberikan peringatan dan mengatakan bahwa sekularisme berada dalam
bahaya.Dan sya katakan, Benar, sekularisme memang berada dalam bahaya. Jika
umat ini berkeinginan untuk menentang sekularisme, maka tidak ada seorang pun
yang akan menghalangi mereka. Umat Islam sedang menunggu perubahan Turki. Dan
semua itu akan terealisasikan, karena perlawanan perlawanan terhadap
sekularisme telah dimulai”
Para tokoh-tokoh kuat sekular
Turki, telah melihat apa yang diperoleh Erdogan selama menjabat walikota.
Akhirnya semua itu menghantarkan Erdogan ke pengadilan hukum dan penjara,
sebagai konsekuensi pelanggaran undang-undang pidana dimana diberlakukan bahi
orang yang melakukan pembangkitan diskriminasi etnis atau agama di Turki. Semua
pemimpin politik mendukung bahwa tidak ada jalan keluar selain penjara agar ia
insyaf dari pendiriannya. Keputusan pada pengadilan intelijen Negara di
Diyarbakir tahun 1998, memutuskan memenjarakan Erdogan selama 10 bulan dan
melarangnya melakukan aktifitas politik.Saat itu, Erdogan mengucapkan, “Ini
bukanlah akhir, tapi ini adalah permulaan.”
Pada hari penjatuhan vonis
pengadilan kepada Erdogan, massa mendatangi rumahnya dan sholat jumat bersama
Erdogan untuk mengucapkan perpisahan. Seusai sholat jumat, Erdogan menuju
penjara diiringi oleh 500 mobil pendukungnya, lalu Erdogan menyampaikan pesan
yang bisa menjadi teladan bagi sesama.Ia mengatakan dalam pidatonya,”Seorang
mukmin kebahagiaanya akan tampak di wajahnya, dan kesedihannya ada dalam
hatinya.”
Dan memandang para pendukungnya
dan rakyat Istanbul sambil berkata,”Selamat tinggal, wahai para pendukungku.Aku
ucapkan selamat Hari Raya Idul Adha kepada penduduk Istanbul, masyarakat Turki
dan seluruh dunia Islam. Aku tidak pernah merasa keberatan dan aku tidak akan
dendam untuk menentang negaraku, tiada perjuanganku kecuali demi untuk
kebahagiaan umatku. Aku akan menghabiskan waktu beberapa bulan ini untuk
mempelajari jalan-jalanyang dapat menghantarkan negeri ini pada era mileniu,
ketiga, insya Allah itu adalah masa-masa yang indah. Aku akan bekerja dengan
sungguh-sungguh di penjara. Sementara kalian yang berada diluar penjara,
berbuatlah sesuai dengan batas kemampuan kalian.Kerahkan kemampuan kalian agar
bisa menjadi arsitekturyang handal, dokter yang baik, dan ahli hukum yang
professional.Aku pergi untuk menunaikan kewajibanku.Dan pergilah kalian juga
untuk menunaikan kewajiban kalian.”
Empat bulan di penjara menjadi
kesempatan Erdogan untuk mengevaluasi diri dengan baik dan bersama Abdullah
Gul, ia memikirkan cara cara untuk merealisasikan ide-ide reformasi mereka yang
bertentangan dengan pemikiran pemimpin sekaligus guru mereka, Necmettin
Erbakan. Perbedaan ini tampak jelas diantara kelompok orang-orang yang ingin
mempertahnkan kepimpinan Erbakan dan kelompok reformis yang dipimpin Erdogan
dan Gul.Dimana keduanya memiliki pemikiran bahwa Partai Refah dalam kesalahan
fatal selama masih berseteru dengan semboyan keagamaan dalam politik,
sebagaimana pengobaran semangat pasukan yang melestarikan sekularisme
Attaturk.Maka kudeta pun terjadi secara diam-diam, pemerintahan Erbakan
dijatuhkan serta larangan terhadap Partai Refah. Dan diperburuk, Rajai Kutan
memimpin Partai Fadhilah yang merupakan penjelmaan baru Partai Refah, agar
Erbakan tetap memegang kendali partai karena ia dilarang melakukan aktivitas
politik. Mahkamah Konstitusi pada tangal 8 Mei 1999, membubarkan Partai
Fadhilah yang didirkan sebagai pengganti Partai Refah.
Adapun kelompok pembaharu,
seperti Erdogan dan Gul, telah mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)
dibawah kepimpinan Recep Tayyeb Erdogan pada 14 Agustus 2001.Kemudian Erdogan
mengajukan diri sebagai calon anggota dewan pemilu tahun 2002.Akan tetapi,
Kejaksaan Agung meminta pengadilan Diyarbakir untuk menolak pencoretan hukuman terhadap
Erdogan dari undang-undang pidana, mencegahnya maju menjadi calon
legislative.Dengan dalih, Erdogan masih harus menyelesaikan masa tahanannya dan
tidak boleh beraktifitas politik selama tiga tahun, dan saat itu hukumannya
belum selesai.Pada 20 Oktober 2002 Erdogan mengundurkan diri dari komite
pendiri partai, sebagai bentuk penunaian keputusan Mahkamah Konstitusi
berdasarkan larangan berpolitik yang disanksikan kepadanya.
Tetapi, Erdogan berpendapat bahwa
tidak ada yang melarang dirinya untuk tetap melanjutkan kepemimoinannya
diparta, karena keputusan Mahkamah Konstitusi hanya berkaitan dengan menjadi
anggota komite pendirri partai saja. Hal ini mendorong Kejaksaan Agung Sabih
Guenad Augal untuk mengajukan gugatan pada tanggal 23 Oktober 2003 di Mahkamah
Konstitusi dengan tuntutan pembubaran Partai Keadilan dan Pembangunan karena
tidak menjalankan keputusan yang ditetapkan. Awal November 2002, Mahkamah
Konstitusi Turki mengeluarkan keputusan memberikan Erdogan izin untuk
melanjutkan memimpin Partai Keadilan dan Pembangunan dengan jaminan partai
harus mengajukan pembelaannya nsecara hukum setelah dua minggu dalam dakwaan
khussus untuk ditutup.Dengan demikian, Erdogan tidak bisa menjadi anggota
parlemen.Hal ini menghalanginya untuk menjadi perdana menteri setelah partainya
memenangi pemilu.
Erdogan sudah yakin dengan
kemampuannya untuk mengatasi seluruh hambatan ia menghalanginya dari kursi
perdana menteri. Kemudian mereka menemukan realita bahwa keputusan serupa pada
bulan Juli 2001 kepada Hassan Jalal Ghozel, mantan pemimpin partai An-Nahdhah.
Ghozel ditahan selama empat bulan dengan kasus yang sama seperti Erdogan
dijatuhi pidana karena mengatasnamakan agama dan berkonsekuensi pelarangan
aktifitas politik.
Prediksi Erdogan terjadi dan
Partai Keadilan dan Pembangunan berhasil mengikuti pemilu tahun 2002 dan
berhasil mengantarkan 323 wakil-wakilnya ke parlemen. Sementara Partai Republik
Rakyat wakil kaum sekular dalam pemilu hanya memperoleh 179 kursi.Ini adalah senuah
keberhasilan dimana paartai bisa mengatur pemerintahan sekarang meski Erdogan
tidak bisa langsung memimpin sendiri pemerintahannya.Oleh karena itu, Erdogan
mewakilkan tugas pemerintahan kepada Abdllah Gul, pada 16 November 2002 hingga
14 Maret 2003.Dan saat larangan beraktifitas politik dicabut, Erdogan menerima
jabatan pemimpin pemerintahan Turki.
Erdogan dengan partai barunya
muncul disaat rakyat Turki berada dalam kondisi putus asa dan keterpurukan
politik, dimana pemerintahan pada saat itu melemparkan undang-undang dan
menyebabkan lenyapnya kepercayaan politik.Erdogan mencoba mengembalika
kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Negara.Dimana pemerintahan Erbakan
pernah dikudeta oleh militer, dan adanya pembubaran partai-partai Islam.
Meskipun banyak partai-partai sekular yang konservatif dan menguasai kancah
politik dalam negeri, akan tetapi banyak orang yang memberikan kepercayaan
sepenuhnya kepada Erdogan, meskipun ia memiliki kecenderungan pada suatu agama,
tetapi tatap menjaga komitmen terhadap dasar-dasar aturan politik dan
konstitusi Negara Turki sebagai Negara Sekular. Erdogan juga meyakinkan pada
setiap pertemuan bahwa partainya bukanlah parti Islam yang konservatif, tapi
partai yang mmoderat, menolak bersitegang dengan partai-partai sekular lainnya.Erdogan
mengatur pemerintahan yang kuar mengikutsertakan orang-orang Turki yang agamis
dan para Ilmuwan turut serta melakukan perubahan dan reformasi.
Komentar
Posting Komentar