"Orang-orang bertanya kepada saya
sebab kesuksesan saya dalam mengentaskan kota dari berbagai dari berbagai
persoalan. Maka saya katakan, kami memiliki senjata yang kalian tidak miliki.
Senjata itu adalah keimanan. Kami memiliki akhlak Islam, teladan umat manusia,
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam."
-Recep Tayyib Erdogan-
Pada 26
Febuari 1954, lahirlah Recep Tayyep Erdogan yang biasa dikenal Erdogan. Kemampuan
dalam megolah negara dan menetapkan kebijakan dalam mengembalikan identitas
Turki ke Dunia Islam. Berawal menjadi Walikota Istanbul Raya mejadi Perdana
Menteri sampai akhirnya menjadi Presiden oleh karena dukungan dan kepercayaan
dari rakyat atas segala pengabdian Erdogan.
Yang paling
menonjol dari Erdogan adalah sikapnya yang toleransi tetapi tidak meninggalkan
cirinya sebagai seorang Muslim. Hidup diantara dua kondisi yang berbeda di
Turki antara Kekhalifahan Turki Utsmani yang Islamis dan Republik Turki dengan
paham sekularisme yang dipaksakan oleh pendirinya Mustafa Kemal Attark. Menjadikan ia sosok yang
mempuanyai kacamata yang tepat bagaimana menyikapi Dunia Barat (Sekular) dan
Dunia Timur serta mengatur posisi strategis Turki sebagai jembatannya. Baginya
“Islam adalah Solusi” dengan keyakinan ini Erdogan pantas disebut ‘Islamis
Reaksioner’. Jembatan politik menjadi pilihannya dalam berjuang dikehidupan
Turki khususnya dan Kawasan umumnya yang penuh pro kontra dari berbagai belahan
dunia.
Dalam
sejarah hidupnya ia pun pernah dipenjara karena sebuah bait puisi yang ia
lontarkan dalam sebuah pidatonya, tapi ia tidak pernah lari atau pasrah. Bahkan
saat di sel tahanan yang ia lakukan adalah mencari solusi, membuat rencana, dan
mempelajari jalan-jalan menuju era milenium ketiga bukannya pasrah oleh keadaan
atau menolak menembus batas kesanggupan, bahkan ia berkata di depan para
pendukungnya, “Seorang mukmin kebahagiaannya akan tampak diwajahnya, dan
kesedihannya ada didalam hatinya.”
Bersama
Partai Keadilan dan Pembangunan Erdogan berhasil mencapai harapannya tahun 2002
Partai ini menjadi partai penguasa tanpa ada koalisi. Dimulailah babak baru
yang jauh dari kudeta militer yang empat kali terjadi di Turki.
Dari dalam
negeri Erdogan memrevisi sejumlah Undang-Undang yang memungkinkan pihak oposisi
militer melakukan kudeta rakyat, terkuaknya jaringan Organekon (konspirasi
terselubung oleh pihak militer terhadap pemerintahan Erdogan), masalah pemberontakan
Kurdistan, berhasil ia selesaikan. Segi ekonomi Pendapatan Domestik Bruto Turki
meningkat melebihi rata-rata pendapatan negara Uni Eropa.
Tidak kalah dengan
dalam negeri diluar negeri berbagi kerjasama ia lakukan, hubungannya dengan
sekutu lamanya Amerika dan Israel dibatasi atas sikap invasi terhadap
palestina, merajut kembali hubungannya dengan timur tengah, menjadi mediasi
beberapa negara yang bertenggangan, merenggangkan ketengan persaingan dengan
Mesir, mendukung program nuklir Iran, kerjasama dengan Amerika Latin serta
Syria, tidak lupa meluruskan sejarah yang menjadi dendam bagi bangsa Armenia.
Erdogan
berhasil memainkan peran dengan soft
approach dalam diplomasi internasional dan perbaikan nasional. Bukan hanya
benar memainkan peran politik dengan cerdas dan cermat, ia juga diikuti tekad
yang kuat serta akhlak yang disertai dengan perbuatan yang senantiasa
konsisten. Bagaimana bisa ia memainkan peran yang sulit dibayangkan dan
diperkirakan menjaga keseimbangan hubungan dengan dunia barat yang senantiasa
kontra dan ingin menguasai dunia timur tetapi juga menjadi sahabat dengan
wilayah kawasan, hal ini menjadikan ia disegani oleh kawan dan lawan. Maka
dengan ini pantas saja ia mendapatkan Nobel Perdamaian.
Artikel ini saya buat karena sepertinya resensi buku tentang Presiden Turki yang sebelumnya saya posting terlalu banyak heheh jadi saya buat lebih ringkas lagi. Dimulai dari buku itulah berasal saya mengenal beliau dan langsung menjadi kagum akan sosoknya dan kewibawaannya. Bisa dikatakan beliau adalah orang revolusioner dalam bidang politik, ekonomi dan agama sekaligus. This is my inspiring people :)
Bagaimana cukup membuat kita refleksi diri akan kita apa yang sudah kita lakukan?
Sepatutnya
kita malu terhadap perjuangan kita yang barangkali belumlah maksimal. Bahkan
ketika kita terlihat dalam keadaan sulit malahan pasrah bukan mencari solusi. Tetapi
ingat ini bukahlah akhir tetapi sebuah awalan, teruslah menebarkan kebaikan
dengan kawan maupun lawan.

Komentar
Posting Komentar