Puntikayan dan Harapan Perbatasan : Tanah Surga Utara Indonesia


Perpisahan selalu hadir disetiap pertemuan dan dari sekian banyak pertemuan, pertemuan di tanah surga utara Indonesia adalah pertemuan yang kubenci. Kubenci dengan adanya perpisahan yang mengikuti dan hadir disenja kala itu. Perpisahan yang mengakhiri salah satu pertemuan yang tak ingin ku akhiri.

Lalu lalang dan keramaian bandara Soekarno-Hatta menjadi saksi pertama pertemuan ini. Tak pernah sebelumnya ku bayangkan bertemu dengan delegasi lain  yang akan bersama-sama mencoba memberikan kontribusi terbaik selama lima hari kedepan. Aku diam-diam memerhatikan satu per satu wajah mereka ada yang bersemangat dengan senyumannya, ada yang lesu karena menempuh jarak yang cukup jauh dari rumahnya, ada yang penat sibuk mengurusi barang-barang, ada yang terlihat sedikit panik memastikan kehadiran teman-temannya, ada yang terlihat menyendiri binggung ingin memulai pembicaraan, ada yang terbahak-bahak sudah langsung akrab dengan yang lainnya dan jangan tanya aku diposisi yang mana.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang sekitar 12 jam lamanya dengan bis tua, aku akhirnya menapak di tanah surga utara Indonesia. Ku hirup dalam- dalam udara pagi yang sejuk sembari merenggangkan badan disepinya jalan raya Entikong kala itu. Bukit demi bukit dan lembah demi lembah kami lewati untuk sampai di dusun Puntikayan.

Rumah kayu yang tersusun di kanan dan kiri jalan, pohon-pohon di sepanjang jalan, anjing yang bebas kesana kemari, babi-babi di pekarangan rumah, pandangan warga mengikuti mobil bak yang kami tumpangi menjadi suasana pertama kali yang kami dapatkan. Untungnya terdapat satu rumah warga yang baru saja dibangun untuk kami singgahi, kami menamainya dengan ‘kostan’.

Perjalanan yang tak bisa dihindari dan seperti sebuah rute kewajiban selama kegiatan kostan – rumah pak dusun, rumah yang terletak di muka dusun dan terdapat warung minum kecil-kecilan ini menjadi markas kami untuk mempersiapkan kegiatan tak tanggung-tanggung demi persiapan yang matang kami pernah sampai hampir tengah malam berada disana. Kenangan antrian panjang untuk makan juga terjadi di rumah yang terbuat dari tembok ini (hanya ada sedikit rumah yang terbuat dari tembok), obrolan manis dan candaan hangat menjadi penghilang penat sesaat. Antusias kami walau sedikit bringas sembari membawa ‘handphone’ dan ‘changer’ untuk mendapatkan lubang stopkontak.

Cabai disini memang membuat nafsu makan aku melonjak karena memang dasarnya aku suka pedas anehnya cabai disini berbeda dari segi ukuran lebih kecil dan sedikit lebih sulit dihaluskan ‘sedikit lebih keras’ tapi jangan main-main soal pedasnya yang jauh dengan cabai yang biasa kita jumpai. Tanganku menjadi korban panasnya cabai tersebut hanya karena tanganku terkena cabai ketika aku sedang menumbuknya lalu lama-lama tangan ku panas dan memerah. Sepanjang hari aku rasanya ingin menangis tak tahan telapak dan punggung tangan ku seperti terbakar memerah panas, akhirnya ada dua anak-anak yang sedang latihan penampilan perpisahan mungkin ‘prihatin’ lalu mengoleskan es batu dari warung pak dusun. Penyejuk gel aloevera dari kak bageur pun tak dapat membantu banyak hanya meredakan rasa panas sesaat bahkan hanya beberapa detik.

Bangunan atas adalah SDN 13 Puntikayan
Tapak menuju sekolah yang terletak ditanah yang lebih tinggi mengajarkan ku banyak hal. Baju seragam yang dipakai setiap harinya tak pernah seragam, sepatu lusuh atau sendal sama saja, tas atau kantong kresek pun tak masalah, ruang kelas dibagi untuk dua kelas pun tak mengapa, duduk dibangku dan meja atau duduk dibawah dengan karpet usang di perpustakaan tak menjadi alasan untuk merajuk.

Aku yang tidak terlalu bisa menguasai diri pendekatan dengan anak kecil tetapi disini rasanya berbeda anak-anak SD 13 Puntikayan tak peduli keterbatasan dengan semangatnya, tak lelah berjalan dengan alas sendalnya, tak terlihat letih dengan tawa dibibirnya.  Aku sangat menyukai momen ini dan ku rekam dengan jelas senyum tulus dan tawa tanpa pamrih mereka. Maafkan aku yang terkadang harus menanyakan kembali nama kalian, mungkin nama adalah hal sering kulupakan tapi tidak dengan wajah dan perilaku orang tersebut. Aku sangat bahagia ketika mereka berteriak dari sekolah memanggilku “Kak Tika” ketika aku berjalan padahal terdapat lapangan luas menghampar di antara tempat aku berjalan dan sekolah . Ahhh sayangnya, mata-ku tak dapat merekam siapa bocah-bocah yang memanggiku saat itu, aku hanya menjawab “Iyaaaa, haaiiii” dan mereka menanyakan apakah aku akan keatas menuju sekolah. Aku senang bisa sedikit akrab dengan anak-anak disana, setidaknya.

Beruntungnya kami dapat mengunjungi bangunan megah yang belakangan dibanggakan oleh Indonesia. PLBN Entikong, salah satu PLBN yang dibangun era Jokowi-JK menjadi garda terdepan tanah surga utara Indonesia - Malaysia. Ornamen dayak dan garuda pancasila yang gagah menjadikan PBLN Entikong lebih ciamik. Terima kasih kepada wakapolsek Entikong yang mengajak kami ke PLBN.

Keberadaan anjing dan babi yang bebas berkeliaran menjadi pengalaman pertama bagi aku. Awalnya mungkin kita akan sedikit ‘kaget’ karena tak terbiasa. Tapi membuat lingkungan ini berbeda anjing-anjing yang berlalu lalang, anjing-anjing mengonggong ketika kami pulang dari rumah pak dusun menuju kostan, babi-babi yang sudah tak sabar menanti makanannya setiap jam 5 pagi, babi-babi kecil yang berkeliaran lari-lari, bahkan sampai babi berantem pernah ku jumpai.

Sampai akhirnya hal yang paling aku tak kunantikan tiba “perpisahan”. Sepertinya langit saat itu tau tangisan dalam tawa yang kita lakukan saat itu, kami kemas perpisahan dengan nonton bersama  dan penutupan kecil-kecilan dengan sebuah pertunjukan ditutup dengan menari bersama warga. Tanpa adanya listik disana membuat gelap malam saat itu semakin pekat. Langit pun tak mau ketinggalan menampilkan pertunjukannya dengan bintang-bintang yang berhamburan dengan jelas indah bak permata, nampaknya kita dapat melihat andromeda dengan mata telanjang malam itu. Sampai saat ini aku akui pertunjukkan bintang-mu adalah pertunjukkan yang paling mempesona dalam hidupku.

Teruntuk kak bageur selaku fasil yang siap sedia ditemani dengan kak acha dan kak rian, terima kasih atas semuanya.
Teruntuk teman-teman yang masih peduli dengan Indonesia aku berharap kalian akan menemukan kesuksesaan masing-masing dan terus semangat mengapai impian. Kak abdul, kak fai, kak yusuf, kak diana, kak hanifa, kak sekar, kak khansa, kak ule, kak yofita, kak annisa, kak ifa, kak fathur, kak andre, kak apriska, kak yohana, kak ayu, kak karina, kak stefi, kak winda, kak dea, kak kia, kak winnie.

Bertemu dan bersama di dusun Puntikayan dengan kalian manusia dari ujung sabang hingga marauke mengajarkan aku banyak hal, kalian luar biasa!. Terima kasih telah menjadi bagian memori indah dalam hidupku, aku akan menyimpan nama-nama kalian dalam kata tulisan ini karena sekali lagi mungkin aku akan lupa dengan nama dan aku takut nama-nama dalam memori indah itu menjadi abu dalam otak-ku.


Komentar