Pernahkah mendengar ada suatu negeri di garis khatulistiwa yang
didalamnya terdapat kekayaan yang berlimpah? Ya, itu negeri-ku Indonesia
Pernahkan mendengar ada suatu negeri yang masih banyak anak-anak
kelaparan lagi tidak berpendidikan padahal negeri tersebut dikenal negeri yang
ramah? Ya, itu negeri-ku Indonesia
Pernahkah mendengar alam indah bak surga dunia dimana flora dan fauna
bersatu dalam nirwana? Ya, itu negeri-ku Indonesia
Entah terkadang aku bertanya pada sang pencipta takdir mengapa aku dilahirkan di negeri yang
bernama Indonesia diantara 196 negara didunia. Setiap sudut yang ketemui selalu
menjadi nestapa yang tak berakhir. Apa kebanyakan orang di negeri ku berfikir ragu
terhadap negerinya sendiri? Apa media menjadikan mereka skeptis hingga terucap
satu persatu premis-premis yang pesimis?
Hingga suatu
sore aku melihat sebuah ‘nestapa’ yang membekas dijiwa aku yang masih bocah SMP
pada saat itu. Kulihat perjuangan saudara-ku di Indonesia di tapal batas negeri
Kalimantan, aku perhatikan dengan jelas program televisi yang menceritakan
kehidupan di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk larut dalam kehidupan mereka
dan duduk termenung didepan televisi.
Memori yang
kuingat dengan jelas pada saat itu adalah sulitnya mereka mendapatkan
pendidikan, mereka harus jalan kaki membelah bukit-bukit, bangun ketika sang
mentari masih terlelap tidur, dengan seragam lusuh dan perlengkapan sekolah
seadanya mereka tempuh untuk duduk dibangku yang sangat mereka cintai, bangku
sekolah.
Memori yang
kuingat dengan jelas pada saat itu adalah tak ada fasilitas dan akses yang
memadai hingga kegiatan ekonomi menjadi tak terkendali. Ya ringgit mengalahkan
eksistensi rupiah. Malaysia negara tetangga kita rupanya lebih membantu
dibanding negeri sendiri, Indonesia. Harga sembako dan barang kebutuhan pun
lebih murah di Malaysia dibandingkan barang yang ada di Indonesia. Beban
transportasi dan campur tangan oknum-oknum (dirty
hands) yang mengakibatkan kenaikan pada barang tersebut. Kalimat kasarnya mereka
tetap orang Indonesia tetapi dalam urusan perut mereka tak bisa menolak
keberadaan Malaysia yang menawarkan harga yang lebih terjangkau.
Rasa empati-ku muncul ketika aku merasa selama ini aku hidup dalam penderitaan orang lain. Ketika
aku dapat dengan mudah akses pendidikan dan hidup dengan layak di Jakarta.
Sedikit aku berkaca-kaca sampai akhirnya air mata tak terbendung kala itu.
Hingga akhirnya aku bertekad suatu saat aku akan pergi kesana untuk melihat
langsung apa yang sebenarnya terjadi.
Saat aku
sudah duduk dibangku kuliah akhirnya kesempatan itu datang dari youcan.id langsung
saja aku mendaftar dan mengisi form seleksi program Social Expedition. Ya
kesempatan untuk menapak di tapal batas negeri utara tepatnya di Entikong,
Kalimantan Barat. Lalu tinggal menunggu hasil seleksi yang akan diberitahu
lewat email itupun jika "lolos".
Aku yang
sedang duduk termenung dibangku paduan suara melihat barisan mahasiswa yang
sedang melaksanakan yudisium, aku terpana pada senyuman bahagia mereka. Setelah lama
menatap orang-orang yang berbaris sambil menunggu namanya dipanggil, aku pun
bosan hingga aku mengeluarkan ‘henpun’ untuk sekedar membuka media sosial lalu melihat postingan yang receh-receh wkwk. Tiba-tiba notifikasi email muncul segera aku buka, “Wahhh ini beneran?”
degup jantung ku tiba-tiba berdegup lebih cepat dan senyum dibibirku muncul
bahkan tidak hilang-hilang seharian, ketika aku mendapatkan LOA bahwa aku Lolos, yiipiii...
Pulang dari acara
yudisium langsung aku menyusun rencana apa saja yang harus aku lakukan. Dan masalah
utama adalah biaya. Memang saat aku memutuskan untuk mendaftar aku tak terlalu
ambil masalah dengan biaya karena semangat dan harapan aku lebih besar
dibanding memikirkan resiko yang ada. Entahlah sudah berapa banyak teman-teman
yang sudah kerja aku bertanya tentang keberadaan CSR dan berapa banyak kating
yang aku tanya bagaimana aku bisa mendapatkan finansial.
Aku tak
terlalu peduli dengan uang yang aku keluarkan saat itu, karena aku tau Allah
akan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang berniat baik.
Aku
mengajukan kepada Dekan dan mengalami penolakan. Katanya kampus aku ini kampus pengerak
tetapi aku merasa kesulitan untuk melakukan pergerakan wkwk. Ternyata setelah
aku bertanya-tanya tahun ini ada kebijakan baru dana universitas tidak
dialokasikan untuk voleenter. Kecewa memang
tapi mau bagaimana aku tak bisa memaksa juga.
Karena itu aku
memutuskan meminjam uang kepada saudara aku yang berada di Semarang untuk
pembayaran pertama. Karena orang tua-ku saat itu belum memberikan izin kepada aku, jadi hal yang mustahil jika orang tua aku memberikan dana tanpa memberikan izin terlebih dahulu. Aku meminjam tetapi juga memberi tau kepada orang tua dan aku diperbolehkan meminjam dahulu asalkan dapat mempertanggungjawabkannya.
Lanjut! aku
membuat list perusahaan yang bisa aku kirim proposal lewat email. Setiap pulang
kuliah aku sempatkan mengirim email kepada 2-3 alamat email perusahaan.
Balasannya memang baru ada sekitar seminggu atau dua minggu dan semua mengalami
penolakan atau bahkan tidak ada respon sama sekali.
Lanjut! aku
mengirim berkas proposal ke BAZNAS ditemani teman-ku yang sekarang aku sangat
berterima kasih kepadanya. Butuh waktu dua minggu untuk menerima respon dari
BAZNAS melalui telepon untuk diwawancarai dan dua minggu lagi untuk menerima
pemberitahuan ditolak atau diterima proposal yang kita ajukan. Sayang-nya tidak
aku angkat karena aku sedang ke toilet, ya sesepele itu ketika telepon untuk
pemberitahuan diterima atau tidaknya. Akhirnya aku menelpon balik, sayangnya
untuk masuk ke operator BAZNAS sulit sekali mungkin banyak juga orang lain yang
kontak-kontakan dengan BAZNAS. Hingga akhirnya pihak BAZNAS memberikan janji
untuk menelpon ulang.
Padahal
persiapan ini itu telah disampaikan di grup WhatsApp oleh fasilitator kepada
para delegasi. Sempat aku memutuskan ingin mengundurkan diri tetapi karena aku
terlalu lama menunggu dan terlena mencari kesana-kemari sponsor aku tak begitu
sadar bahwa telah memasuki waktu jika mengundurkan diri maka pengembalian
payment 1 hanya 50%.
Lantas apa
yang aku perbuat? Aku bukan mengundurkan diri tapi datang kepada ibu dan sekali
lagi menjelaskan mengapa aku ingin sekali ikut program ini dan menjelaskan
kembali untuk kesekian kali apa program ini. Ya, ibu-ku adalah orang yang
paling khawatir dengan aku yang masih 18 tahun perempuan jika pergi jarak jauh
sendiri, pikiran negatif menyelimutinya entah itu perdagangan manusia, jaminan
kehidupan aku disana, lembaga ilegal, sampai santet orang Kalimantan. Entahlah
tapi itu kenyataan terjadi pada pikiran ibu-ku. Kemudian untuk kesekian kalinya
kata-kata tak dapat menjelaskan tinggal air mata yang dapat diandalkan, aku
bercerita sambil air mata mengalir padahal aku sudah berusaha menahannya. Oh
yaa ampun mengapa diri ini cenggeng sekali ternyata. Hingga akhirnya ibu
mengizinkan dan memberikan uang untuk payment 2 dengan syarat aku harus
mengembalikan dana dari pihak sponsor. Padahal aku belum mendapatkan kepastian
dari pihak BAZNAS dan sponsor lainnya, hufftt. Tapi aku bertekad aku akan bisa
mendapatkannya.
Setelah aku
menunggu di telepon ulang yang tak kunjung datang seperti yang sudah dijanjikan.
Aku memutuskan ditemani teman-teman datang langsung ke kantor BAZNAS dan tebak
apa yang terjadi..... AKU DITOLAK. Ya aku tak bisa menahan air mata dari mana
aku akan mencari kembali sedangkan waktu pelaksanaan tinggal sedikit lagi
secara spontan aku menceritakan apa yang terjadi seperti yang aku ceritakan di
postingan ini dan mengapa aku begitu memperjuangkan kesempatan ini. Mba BAZNAS
yang berbaik hati tersebut akhirnya berkata ia akan kembali berdiskusi dengan
pihak yang berwewenang karena ia bukan pihak yang memutuskan tetapi hanya
memberi tau kan keputusan. Aku pun bisa dikatakan stress kala itu kemana lagi
aku harus mencari dan darimana lagi aku harus memulai rencana lainnya.
Sekali lagi
aku berucap Allah tau hamba-Nya yang berniat baik beberapa hari setelah
kedatangan-ku ke kantor BAZNAS aku menerima telepon di pagi hari sekitar jam
sembilan. Mba yang ku temui saat itu tenyata yang menelpon dan berkata bahwa
pihak BAZNAS bisa membiayai aku walau tidak seluruh biaya yang telah aku ajukan.
Senyuman lega-ku pun mengembang aku duduk bersandar dengan penuh keleluasaan
dan berucap Alhamdulillah. Seminggu sebelum keberangkatan akhirnya aku
mendapatkan kepastiaan dari semua perjuangan yang telah kulalui.
Terimakasih
Ibu, BAZNAS dan teman-teman yang mendoakan aku tak tau doa mana yang terkabul
yang bisa jadi salah satu diantara kalian. Oh yaa teman-teman dan pembaca
sekalian jangan lupa bayar zakat di bulan ramadhan ini ya bisa ke baznas juga
kok melalui rekening baznas...
Tiap malam
aku tidak berfikir tentang biaya dan persiapan untuk mengoals-kan proposal tetapi berfikir bagaimana menyiapkan diri
untuk mengikuti program yang kuakui aku ketinggalan jauh diantara delegasi yang
lain yang sebelumnya sudah pasti ikut program.
Aku tak
sabar menunggu tanggal 30 April 2018, dimana untuk pertama kalinya aku akan
menapak di tanah Kalimantan, mengabdi di tapal batas yang aku impikan dan
pertama kali naik pesawat wkwk.
Tunggu cerita dari kehidupan di Entikong
tepatnya di dusun Puntikayan yang menawan J

Komentar
Posting Komentar