Pagi yang cerah ini aku
memutuskan bersepeda memutari komplek yang asri dan tentram ini. Sembari
bersepeda aku ditemani headset kesayanganku, mengusir sepi dan menciptakan
kegaduhan di otakku. Tiba-tiba musik yang aku putar berhenti yang terdengar
adalah nada dering telepon dari nomer yang tak dikenal. “Hallo, Assalamualaykum.
Maaf ini siapa yaa?” “Waalaykumussalam. Halo, ini Aksara kan ya? Ini mama”.
Hah? Mama?
***
18 tahun sudah berlalu dan aku
masih terpaku pada satu hal. Bisakah aku memanggilnya lelaki paruh baya itu dengan
sebutan ‘Ayah’ tanpa mendapatkan rasa keberadannya? Kedatangannya bisa diitung
jari dan aku pun agaknya telah lupa bagaimana rupanya, mungkin hidungnya mirip
dengan aku atau mata dan tatapanku mirip dengannya. Entahlah
Aksara, nama itu indah bukan? Tapi
tidak dengan kisah ini menurutku ini sangat pilu. Aku hidup dari kecil
dibesarkan oleh sepasang suami-istri, sebut saja Bunda dan Papa. Mereka masih
keluargaku. Hidup berkecukupan di kota Metropolitan dengan hingar bingar yang
tak ingin aku dengar di tengah kota yang serba ada. Kehidupan sekolah aku pun
mulus tak ada aral rintangan yang berarti, aku pun pernah menjadi golongan
siswa paling andal dan pandai di sekolah. Tunggu... aku bukan sombong tapi
kenyataannya memang begitu. Tinggal bersama dengan saudara-saudara lainnya di
satu atap adalah hal yang paling menyenangkan, di rumah yang kami tinggali ini
terdapat setidaknya tiga keluarga dan memang rumah ini besar sekali setelah aku
pikir-pikir. Dari semua orang diantara keluarga ini aku sangat mencintai Bundaku tanpa alasan.
Lelaki paruh baya itu selama aku
tinggal di rumah besar ini beberapa kali datang, aku lupa pastinya yang jelas
tak lebih dari jumlah jemari tangan aku. Dia datang secara tiba-tiba, entah
sedang kerasukan apa tiba-tiba saja bisa datang atau mendapatkan bisikan dari
mana tiba-tiba saja bisa datang. Dia datang membawa jiwa raganya yang terlihat
kokoh namun sayu, membawa sedikit buah tangan seperti yang biasa dilakukan
orang-orang, tak lupa mengajak beberapa orang ikut mengunjungi ‘Aku’. Yaa
tujuan datangnya lelaki paruh baya itu untuk menemui Aksara, entah untuk
mengetahui perkembangannya, sekedar datang sebab darahnya mengalir dalam tubuh
remaja itu, atau sekedar mengetahui masih ada Aksara di dunia.
Salah satu kedatangannya yang aku
masih ingat ketika Lelaki itu membantu Aksara kecil membersihkan diri. Seolah seorang
Ayah yang memandikan buah hatinya dengan lembut dan ucapan-ucapan petuahnnya
sembari menguyurkan air dari kepala hingga mata kaki gadis kecil itu. Aku si
gadis kecil itu hanya tertawa dan mengangguk-anggukan kepala isyarat mengerti
ucapan lelaki itu. Aku senang dengan kedatangannya, bagiku saat itu Dia salah
seorang yang Aku tunggu-tunggu kedatangannya entah berapa lama waktu yang dibutuhkan
untuk kedatangan selanjutnya.
Kedatangan lainnya dan Aku bukan
Aksara kecil lagi. Lelaki itu tambah lebih tua, bertambah garis wajahnya,
tubuhnya lebih renta dari sebelumnya dan kulitnya semakin menggelap saja
seperti terbakar terik matahari. Kedatangannya kali ini membawa wanita yang
sepertinya terlihat 10 tahun lebih muda dari lelaki itu dan membawa seorang
bayi. Bayi itu menggemaskan, terbalut dalam gendongan berwarna biru berada
dipelukan wanita bertubuh mungil itu. Tak tertinggalan ada sepasang suami-istri
yang sudah tua dan berubanan, mereka adalah orang tua dari lelaki paruh baya itu!
Tak lain dan tak bukan berarti Kakek-Nenek Aku. Satu lagi yang menarik perhatianku,
ada gadis sekitar berusia 3 – 4 tahun lebih muda dariku. Saat itu aku tau ternyata
dia adikku yang pernah berbincang melalui telepon. Namanya Tri. Jadi begini
rupanya, dalam benakku. Seharian itu aku lewati bersama tamu-tamu yang kemarin
harinya tiba-tiba menelpon ketika aku saat sedang bersepeda memutari komplek
yang asri dan tentram ini. Sembari bersepeda aku ditemani headset kesayanganku,
mengusir sepi dan menciptakan kegaduhan di otakku. Tiba-tiba musik yang aku
putar berhenti yang terdengar adalah nada dering telepon dari nomer yang tak
dikenal. “Hallo, Assalamualaykum. Maaf ini siapa yaa?” “Waalaykumussalam. Halo,
ini Aksara kan ya? Ini mama”. Hah? Mama?
Jadi rupanya wanita ini yang berbicara di
telepon kemarin.
Hari itu sangat berwarna bagiku
seperti datangnya gerimis ketika musim panas dan Aku dengan sukarela menghirup
bau dari tanah yang menyeruak memenuhi udara. Aku mengunjungi mall yang ada di dekat rumah. Ketika
sampai di toko buku, Aku di suruh memilih apa yang aku perlukan, akhirnya Aku
mengambil tas berwarna tosca terlihat pas dan cocok untuk membawa beban
buku-buku sekolahku, sekalian mengambil kesempatan kapan lagi bisa memilih tas
sendiri dengan merk yang sedang booming
saat itu. Aksara kecil bukanlah orang yang didik sering berbelanja di mall, biasanya Aku belanja jika hanya
ingin tahun pelajaran baru. Bagi Aku saat itu tas tersebut sangatlah berharga
terlebih dari orang yang paling berharga dalam hidupku. Adikku meminta beli
Kamus Bahasa Inggris – Indonesia dan Aku yang bantu memilihkan untuknya. Namun,
Aku lupa bagaimana ceritanya kamusnya jatuh ke tangan Aku. Lelaki itu berkata, “Gakpapa.
Kasih kak Aksara aja, dia lagi butuh lagian kan kamu bisa beli lagi. Mumpung masih
disini”. Ketika pulang pun ditinggalinya Aku amplop, Aku pikir akan sama dengan
angpao lebaran jumlahnya. Ternyata tidak, uangnya begitu banyak untuk Aku yang
ketika itu masih di bangku Sekolah Menengah Pertama. Bagaimana Aku tidak senang
setiap kedatangannya Aku seperti Nona Putri saja.
Kini Aku sadari pertemuan dimana
Aku berperan menjadi Nona Putri itu adalah pertemuan terakhir.
***
Malam hari ditemani sepupu-sepupu
seatapku. Aku sedang berbincang melalui telepon dengan Lelaki itu. Tak hanya
berbincang dengannya, Aku berbincang dengan Adikku! Tri.
“Kakak jago bahasa Inggris yaa? Kalo
IPA gimana”
“Ah enggak biasa aja kok. Belajar
aja ini juga masih belajar kok, IPA mah gampang banget itu kayak planet-planet,
tubuh manusia, baca InsyaAllah bisa itu mah”
“Ajarin dong. Gimana sii biar
Bahasa Inggrisnya bagus?”
“Bahasa Inggris sebenernya
gampang asal tau beberapa arti kata aja sama denger lagu luar negeri”
Singkatnya kami berdua banyak
berbincang mengenai sekolah, Aku yang tak pernah merasakan mempunyai adik
sungguhan selama hidup yaaa walaupun mempunyai sepupu yang umurnya dibawahku
tetap saja rasanya mungkin akan agak berbeda antara adik sepupu dan yang
benar-benar adik dalam satu keluarga. Sedikit aneh memang tiba-tiba saja
betahun-tahun sekarang ini Aku bersikap menjadi Kakak untuk seorang Adik.
“Gimana kamu disana baik? Ayah
kerja apa?”
“Baik. Ahh malu kak”
“Loh kok malu? Emangnya kenapa?
Kan Ayah kamu Ayah Aku juga”
“Tapi kak Aksara jangan ketawa
yaa... Ayah kerja Kuli Bangunan”
Aksara akan tumbuh dewasa entah
jiwa, raga maupun perasaannya. Aksara sekarang paham mengapa begitu lama
menanti kedatangan Lelaki paruh baya yang menjadikannya Nona Putri dalam sehari
penuh itu. Aksara paham mengapa Ayah memberikan apapun ketika bertemu. Lelaki
itu menebusnya dengan waktu dan tenaganya yang sudah tak muda lagi.
Hari demi hari setelah
kedatangannya, telepon darinya sering masuk entah wanita itu, Ayah, Tri. Aku
menerimanya dengan suka cita. Hanya saja waktu mengambil alih menyetir ego
kami, telepon pun hilang tanpa jejak yang berarti. Aku-Ayah-Tri hanya cerita
tak memberi jejak untuk kembali. Hilang.
***
Aksara kini berusia 18 tahun,
pikirannya telah matang dan tajam serta ego yang menyelimutinya. Aku, Aksara
yang berbeda kini dapat membedakan banyak hal, memiliki sudut pandang tak
terbatas, dan Aku tetap Aksara yang kehilangan jejak Lelaki itu. Nona Putri
telah hilang, kini dan mungkin selamanya. Aku tak tau apa yang benar-benar
terjadi. Aku hidup dengan Bunda dan Papa, mereka lah pengisi rumpang jiwa ini. Kalau
keegoisan waktu bisa ditepiskan Aku ingin berbisik ditelinga Ayah, “Aku tak
butuh hartamu. Tak perlu kau mati-matian memberi Aku, dengan begitu tak perlu
kau tunggu waktu terlalu lama untuk bertemu. Simpan keringat itu nanti. Bawa saja
dirimu, dengan raga yang baik dan jiwa seutuhnya. Ayah”
Bis yang biasa Aku tumpangi
terkadang membiru karena air dipandanganku. Mataku tak bisa memandang semua
mendadak menjadi terhalang oleh air mataku. Aku memikirkanmu Ayah. Tega sekali
tak memberiku sekata pun ucapan, tak sekalipun dering itu berbunyi untuk sekian
kalinya. Tenang saja, Aku punya sejadah Ayah. Aku menyimpan pesan untukmu
melaluinya. Apa Ayah dengar apa yang aku pesanankan? Jika kau tanya keadaanku
disini Aku patah Ayah namun Aku baik-baik saja ada Bunda yang menemani, Aku
masih beruntung Ayah. Aksara ini masih dalam perlindungan Allah dan Allah masih
mengasihi Aksara karunia yang selalu dekat dan terbaiknya untuk Aksara, Bunda.
***
Dunia maya yang menurutku lebih kearah
fake area itu ternyata tidak
sepenuhnya buruk. Di lain cerita, Aku pun memiliki Mama, seorang istri dari
Ayah. Sekaligus wanita yang telah mengandung Aksara dan merawat Aksara hingga
Batita. Walaupun setelahnya Aku tinggal dengan Keluarga Bunda-Papa, Mama memiliki
ruang tersendiri di hati ku. Tetap saja Aku tak memiliki ingatan mesra
dengannya saat kecil, memang demikian ingatan dibawah lima tahun cenderung hilang
karena otak hanya menyaring hal-hal yang berguna bagi kita kelak ketika tumbuh
berkembang. Dunia maya tadi membuat Aku terkoneksi kembali dengan Mama serta
Kakakku Eni.
Setelah terkoneksi kembali, entah
bagaimana jalannya tiba-tiba saja akupun jadi terkoneksi dengan Lelaki itu dan
Tri. Namun, Aku sadari Aku belum cukup tau tentang adikku dan bagaimana seluk
beluknya. Sayangnya Ayah tidak memiliki kendali atas nomer telepon itu, yaa
wanita yang mengendong bayi itu yang mengoperasikan dan memegang kendali
handphone tersebut. Tetap saja mungkin ini bisa jadi jalan silahturahmi,
pikirku.
***
Suatu malam sunyi dan Aku dikamar
dengan dinding seolah-olah ingin menghimpitku tak membiarkan Aku melangkah
beranjak. Kak Eni meminta pendapatku tentang Ayah. Hah? Mengapa mempertanyakan
ini padaku. Aku hilang, kakak. Jangan memperlakukan Aksara ini dengan tega,
kakak.
“Aksara, kamu sudah besar
sekarang. Kamu tau kenapa begitu hancurnya keluarga kita? Semua berpisah. Aku
pun tak tau keberadaan Kamu sebelumnya. Aku pun disini bersama Mama berharap
dengan cemas. Kamu perlu tau itu sekarang. Akupun merasa berat, tak tau kamu
merasa seberat apa tinggal disana. Aku rasa kamu merasakan hal yang lebih berat”
“Kakak, kenapa mempertanyakan hal
semacam ini? Aku pun tak menolak, Aku akui hidup Aku berat saat ini. Sejujurnya
Aku ini tak memiliki rasa tentang Mama. Aku tak memiliki rasa bagaimana
mempunyai adik dan kakak secara utuh dan wajar. Aku tak mempunyai rasa kasih
dari seorang Ayah atau pun memiliki Ayah. Aku tau kakak pun berat dan amat
berat. Biarkanlah begini, Aksara bisa hidup pun walau tak merasa”
“Kuat-kuatlah disana, bertahan. Terbuka
saja sama kakakmu ini. Aksara, dengar kan baik baik... penyebab semua hancur
ini semua ulah Ayah mu. Tolong walaupun kamu besar disana bersama Bunda-Papa
jangan pernah membenci Mama dan keluargamu. Ayahmu pergi merantau Aksara, namun
ternyata Ayahmu itu hilang akalnya, mencintai wanita lain. Tak ada kabar. Lalu
pergi meninggalkan Mama dan kita semua. Namanya Rani, wanita itu, Mama
hampir-hampir gila, bersedih sangat sedih menangis dan menangis tiap harinya. Tak
henti-henti mengutuk keadaan dan Ayahmu itu, Aksara. Terkadang Mama menyalahkan
dirinya sendiri, Mama tulis besar-besar nama wanita itu di dinding kamar sambil
menangis tak habis-habis airmatanya larut dalam kesedihan. Musibahnya begitu
berat baginya. Jangan membenci Mama, Jangan membenci Mama. Maaf jika keadaan mengharuskan
kamu begini Aksara”
“Aku tak pernah membenci Mama,
kakak. Terlintas pun tidak, Aku akui telah lupa tentang Mama dan segala
sesuatunya, kasih sayangnya, dan sosok Ibu yang melekat padanya. Namun, perlu
kakak tau Aksara akan mencintai Mama karena Aksara anaknya juga. Aku pun sangat
mencintai Bunda disini namun bukan berarti Aku membenci Mama. Tak perlu meminta
maaf, ini bukan keinginan Mama “
“Berterimakasih kamu sama Bunda-Papa
merawat kamu hingga sebesar dan sepintar ini. Aksara, kakak yakin kamu orang
berbeda dari yang lain. Lebih mengerti keadaanya bagaimana. Meskipun keluarga
kita hancur kuatkan pundakmu. Jangan benci sama kakak karena kakak tidak suka
dengan Ayah. Sempat ada rasa kasihan dengan Ayah dan berharap Ayah kembali. Namun,
saat ini sama sekali tidak ingin kakak melihat Ayah. Dia penyebab semuanya
menjadi runyam begini, keluarga kita hancur, Aksara. Mama terpukul. Tolong jangan
benci kakak karena membenci Ayah”
“Kalau boleh jujur saat ini Aku
mati rasa tak mengapa tak ada Ayah, toh sampai saat ini pun Aku merasa hidup
tanpa sosok Lelaki yang menjadi pusat perlindunganku. Aku mati rasa tapi tak ingin
menuntut Mama juga, maaf Aku tidak bisa memberikan cinta utuh kepada Mama Aku
lupa bagaimana sosok Mama dan cinta
seperti apa yang Mama berikan. Terima kasih telah menjaga Mama, Aksara percaya
kakak orang andalan Mama jangan buat kecewa. Aku nggak ngerti apa-apa, tak tau apa-apa.
Aku buta kak, tapi apa perlu menyalahkan keadaan? Aku rasa semua tidak bisa
berubah. Aku membenci Papa, kakak. Nanti
saja Aku ceritakan saat kakak bisa mampir ke kota Jakarta”
***
Air mata suka tak mengenal
situasi Aku bisa saja menangis sebab terlintas perkataan kakak Eni. Semua begitu
sulit dan Aku bahkan tak tau apa-apa. Lelaki itu yang dulu Aku ingin banggakan,
sekarang ini Aku telah patah bagian untuknya telah retak. Kepercayaan Aku dan
harapanku telah Aku buang jauh-jauh berharap lubang hitam menelannya agar tak
kembali. Aksara, gadis yang berharap-harap memiliki pelindung abadinya, sosok
yang selalu menjadikannya Nona Putri telah hilang, lenyap. Tidak ada lagi yang
dapat dipercayai. Tidak ada lagi sosok yang bisa membuat harinya bahagia
seperti ketika menghirup aroma tanah terguyur gerimis, tenang. Semua lenyap Aku
biarlah menjadi Aksara tanpa bisa merasa. Tak usah kembali.
Lelaki paruh baya itu yang selalu
Aku harapkan karena Aksara tak pernah mendapatkan sosok pusat perlindungan dari
Papa. Papa tak pernah Aku jadikan harapan menempati posisi itu, sama sekali
tidak. Bahkan diusia Aku kini, Aku bisa mengatakan tak bisa menghargai Papa. Saat
ini kak Eni, Aku membutuhkanmu. Aku benci Papa dan mencintai Bunda dengan
sangat amat. Kau perlu tau ceritanya, Aku tunggu di kota metropolitan, Jakarta
Percakapan panjang dengan kak Eni
seperti menjadi jawaban teka-teki selama penantian Aksara. Aksara dewasa kini
paham, mengapa wanita itu tiba-tiba ada siapa dia? Kini Aksara paham. Mengapa wanita
yang memeluk anaknya dengan erat memegang kendali komunikasi Ayah? Kini Aksara
paham. Alasan mengapa lelaki paruh baya itu tak kembali bukan hanya soal
keringat tapi memang semua telah terlanjur hancur dan aku hanya seorang gadis
yang tak menyadari sejak dulu jiwanya hancur namun terlambat mengetahui,
meledaklah Aku kini, tak ada lagi harapan memiliki pusat perlindungan.
Ayah tak ada, memang tak pernah ada,
Aksara saja yang mengkhayal menjadi Nona Putri yang memiliki pelindung perkasa.
Lelaki paruh baya itu hanya menjelma menjadi pemilik hati yang Aku dambakan,
ternyata hatinya telah lama mati dan tak akan kembali. Jikalau pun kembali apa
Aku pantas memanggilnya Ayah dan apa dia pantas Aksara panggil Ayah?
![]() |
| https://id.theasianparent.com/cinta-ayah-pada-anak-perempuan |
Aksara, 2019
(Cerita ini
terinspirasi oleh kisah nyata seseorang dengan sedikit improvisasi dari
penulis)

Nice
BalasHapusKamu dan Kakakmu adalah WANITA HEBAT.
BalasHapus