I’m not an Angel in
Fairytale
“Araaa!!! Ya Allah” teriak suara Mama lantang.
“Kenapa mah?” aku terkejut dari nyamannya kasur jam tujuh
pagi dihari Minggu.
Nama aku Sahara Agnasina. Orang daerah rumah Aku termasuk
keluarga Aku biasa memanggilku dengan kata ‘Ara’ beda cerita di Kampus aku
dipanggil ‘Agna’. Mari Aku beritahu padamu, tentang menjadi sosok Ara dan Agna.
***
“Iya bang se-sesuai titik yaaaa, saya pake baju hmm...
merah!” Aku menjawab sambil terbata-bata.
Sekitar lima menit kemudian datang bapak tua memakai jaket
khas hijau ojol, Aku melihat pula sedikit rambut beruban di bagian jidatnya.
Bapak tua tersebut berhenti tepat didepanku.
“Neng Sahara bukan?”
“Iyaa pak, buru-buru yaa soalnya saya ada UTS jam 7”
“Iya neng, ini helmnya dipake”
Pagi ini Aku merasa sangat grasak-grusuk akibat malam yang sangat melelahkan membuat Aku harus
mengejar semua deadline tugas yang berserakan belum lagi bekerja di restoran seafood sekitar Pasar Minggu untuk
menambah uang harian Aku.
Aku buka pintu kelas perlahan, anehnya dikampus Aku pintu
seperti belut saja ada listriknya! Suka mengagetkan memang. Tempat duduk sudah
disiapkan khusus untuk ujian terpisah-pisah dan satu sama lain berjarak, hufft
terlebih Pak Kendi dosen Filsafat Aku ini suka sekali memberikan tugas yang tak
terkira berbagai macam kasus dan teori harus diselesaikan. Aku sudah memiliki
ekspetasi sendiri bagaimana rumitnya soal UTS yang beliau ujikan.
“Na, ambil soalnya didepan” ucap Nia yang duduk tepat di
sebelah jendela dekat pintu.
Aku mengambil soal dan berusaha untuk mulai mengerjakan
dengan tenang.
***
Aku melihat mama duduk termenung diujung samping meja makan
kecil kami. Terlihat baju dasternya yang lusuh dan rambutnya yang terlihat
kacau tak jauh berbeda tampak raut mukanya panik, marah dan seperti menahan
sedih. Keringatnya mengucur begitu pula matanya membiru, seakan-akan aku tak
dapat membedakan entah itu keringatnya atau air matanya.
Aku berlari menuju padanya, sesambil aku bertanya-tanya pagi
ini ada apa.
“Maa kenapa? Kenapa mama? Ayoo jawab ma” Aku menjadi ikut
panik ketika melihatnya menahan amarah yang tampak dari gemertak gigi dan
gemetarnya bibir mama.
“Kamu tau ara mama gila, mama gila. Kemana abangmu semalam
pergi datang-datang membuat mama kesetanan” kata mama sambil membuka mata
lebar-lebar dan suara yang berusaha tegar.
“Bagasssss!!!” Aku langsung berteriak dan berjalan tak tentu
arah seputaran rumah mencari keberadaannya.
Dia, abangku. Satu-satunya abangku.
“Lo abis ngapain emang semalam hah? Bego ya lo ini masih pagi
kenapa mama bisa begini?” ucapkan dengan ketus melihat abang ku sedang
merebahkan badannya di sofa ruang tamu. Kagetnya dia tak sendiri, teman-teman
yang entah datangnya darimana sekitar lima orang dengan pakaian lusuh seperti
tidak berganti hampir satu minggu.
“Bisa diem gak si” ucap abang dengan nada tinggi sambil meneguk minuman yang ada
dimeja hadapannya.
“Kalian semua bisa gak pulang sekarang? Saya minta kalian
pulang” tiba-tiba mama muncul dari pembatas ruangan antara ruang tamu dan ruang
keluarga.
“Heh! Lo siapa si nyuruh-nyuruh kita balik!” ucap salah satu
teman abangku yang berbaju buntung tanpa lengan warna hitam lusuh dengan gaya
rambut gondrong.
Aku meradang Aku tepuk meja keras-keras dan berkata, “Heh!
Tolong ya kenapa disini lo yang songgong. Ini rumah bukan punya lo. Tolong ya
jaga sikap jangan bawa-bawa sikap jalanan lo kesini”
Abangku akhirnya menyuruh teman-temannya pulang. Setelah 15
menit kemudian, Aku mendengar suara motor berangsur-angsur pergi. Yaa, abang ku
kini memulai permainannya kembali dan pergi.
Mama masih membisu.
***
“Agna! Kenapa lo sayu banget tu mata. Gegara ngerjain tugas
bu Wiwi yaa?” ucap Tini, salah satu teman kelas ku yang cerewetnya minta ampun.
“Iyaaa gila dah, banyak banget tugasnya mana cuma dikasih
waktu 2 hari doang” jawabku tak mau memperpanjang obrolan.
“Wehhh, Agna! Jadi gak kita kuyy ke Purwakarta. Refreshing
lah bisa gila kita kuliah mulu” tiba-tiba Nino muncul dibelakang ku.
“Lah ayo... bisa gila gue disini. Pengen rehat lah
sekali-kali. Jangan wacana forever
yeee awas aja” balasku.
“Iyeee siap” Nino meninggalkan Aku yang masih merapikan alat
tulis dan Aku rasa dia akan berkeliling kelas mengajak yang lain ikut berlibur
ke Purwakarta.
Selepas kelas Aku menuju kedai kopi yang ada dikampus
letaknya memang agak jauh dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Tempat ini Aku
sering berkumpul bersama teman-teman membahas banyak hal tentang organisasi,
kepanitiaan dan tak lupa terselip obrolan gila diantara kami. Aku lalu bertemu
Bimo, kakak tingkat anak FH semester 9 yang katanya gak mau buru-buru lulus
dari almamater kampus ini.
“Bim, gila dah gue pusing banget. Masa ini laporan keuangan
gak sama si sama uang fisiknya. Bisa stress nih gue gegara giniian doang.
Lagian kenapa bendahara gak anak dari FEB aja si” ucapku dengan nada sedikit
ngomel dan tetap berusaha mencari selisihnya dengan bantuan kalkulator tua casio.
“Yaah lo, ini tandanya lo bisa dipercaya untuk hal berbau
duit-duit na. Lagian itu juga pertanda lo kompeten dibanyak bidang cuy” jawab
Bima sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ah audah gue pengen berdendang dulu, istirahat dulu dah
puyeng pala gue gegara dua ratus tiga puluh tiga ribu doangan” Aku menutup buku
laporan kas dan mengambil headset.
“Tumben lo biasanye makan kalo puyeng atau nyanyi gak jelas”
jawab Bimo sambil menata buku-buku yang ada di rak kedai.
Evakuasi by Hindia playing on
spotify
***
Senyap.
Gelap.
Gegap.
Malam sunyi ini Aku terdiam diatas kasur ku, sudut dinding
seakan-akan memojokkan sedangkan atap kamarku seakan-akan mencemooh betapa
rendahnya diri ini. Badan Aku terkapar namun pikiran ku melayang-layang namun
terpentok dinding kamar bertubi-tubi namun tetap saja begitu lagi dan lagi terkadang
kembali kedalam kepala Aku yang tak berisi.
Perihal patah tentu saja Aku merasakan apalagi mama, tapi apa
Aku bisa apa. Seakan posisi Aku tidak pernah menguntungkan dan dunia terasa
tidak pernah sepaham dengan kepala ku. Aku terjerembab pada harapan semu akan
hidup.
“Brakkk”
Bunyi pintu kebanting disusul suara abang Bagas yang datang
hanya sepintas ketika Aku merasa dalam keadaan sulit. Bisa aku tebak apa yang
akan terjadi dari yang sudah-sudah.
“Barang gue lo kemanain?” Aku teriak dari ruang makan sambil
berjalan ke ruang tengah.
“Gue mau minta uang tiga juta dong. Lo ada gak?” sembari
minum kopi diangkatnya kaki ke meja tua sambil menonton bola.
“Hah? Cuihhh. Lo pikir nyari kerja gampang nyari duit
gampang? Enak banget yaaa lo ngomong ‘seenteng’ itu”
“Kamera dari Ayah mana?!” ucap ku sambil berkeringat berusaha
menjaga amarah rasanya tubuh Aku panas dingin.
“Gue kan bilang gue minta uang tiga juta. Ngerti gak si?”
menatap Aku dengan santainya tanpa merasa bersalah sembari memegang gelas
kacanya, seakan-akan ingin dilemparkannya kepada ku.
“Mau buat apa? Keluar gak jelas cuman habisin uang gue? Mama?
Gue udah tau kebiasaaan lo kelewatan tau gak! Dasar sinting”
“Kamera lo gue gadai. Mau balik kan? Makannya kasih gue tiga
juta”
Aku merasa geram marah Abang Bagas bersikap seolah tak ada
yang salah, raut wajah santainya adalah raut wajah marah ku. Aku terpaku,
terdiam dan membisu. Seakan-akan emosi ku telah sampai ke atas kepala ku siap
memuncak tapi Aku berusaha keras menahannya.
“Bawa kameranya kembali dan ini uangnya” ucap Mama tiba-tiba
dari belakang.
Aku terdiam keheranan dan bertanya dalam hati, Mengapa
berujung segampang ini?
***
Pagi ini kelas Pak Janu, beliau mengajar Hukum Internasional
dikelas ku. Salah satu professor di FISIP terkenal dengan cara bicara yang
lugas namun tepat sasaran beliau pernah kuliah di German, namun logat Jawanya
masih kental ketika bicara.
Kali ini Aku membawa Ara ketika Aku sedang berperan menjadi
Agna, kali ini Aku tak bisa membiarkan Ara merasa sendirian dan hanya meratap
kehampaan.
“Agna, kenapa lo lemes banget deh. Sumpah lo gak biasanya
kayak gini Na. Sakit? Ehh liat gue dong Agna”, ucap Nia ketika berpapasan
dengan ku depan Aula FISIP.
“Im just okay, really.
Dont worry about me” Aku membalasnya dengan senyum tipis.
“Pak Janu telat masuk jam setengah 9. Biasalah abis conference di Brunei kan dia, ayoo
bareng aja sama gue ke kelas”, langsung Nia menyambar tangan ku seolah-olah Aku
tak tau jalan ke kelas.
***
Aku ingat betul bukan satu dua kali Abangku bersikap seperti itu, berkali-kali bahkan tak bisa Aku sebutkan jumlahnya.
Dikatakannya pada ku Aku hanya menyulitkan di hidupnya dan semua keributan yang terjadi adalah salahku. Semua salahku, salah ku yang masih memperjuangan kuliah dan salah ku yang masih memperjuangkan keluarga ini. Bisakah Abangku ini mengerti, siapa orang yang bisa memilih darah lahirnya? keluarganya?
Pernah Aku meras benar-benar ingin keluar dari rumah, kepala ku berdarah, ya darah. Piring mengenai kepala ku. Dilemparkan olehnya tanpa rasa ampun. Dijedotkan kepala Aku ke tembok. Dilemparkannya barang ke badan yang lelah ini. Setiap kali kau melakukan itu rasanya Aku seperti orang yang tak diinginkan. Setiap kali kau melakukan itu rasanya Aku pantas disakiti terus menerus. Semua seperti berisi amarahnya yang diluapkan dan dilampiaskannya padaku. Ya, adiknya sendiri. Aku menimbun amarahmu dari semua perlakuanmu, tanpa kau sadari. Kau memang tak pernah ingin sadar.
Abang... Jika kau pergi pun Aku sudi nggak ada sedikitpun rasa kasihan pada mu. Aku rela membiarkan saudara sedarahku hilang ditelan bumi.
***
Aku masih saja berjalan di koridor menuju kelas tangan Nia
terasa hangat. Sebentar pandangan ku berbeda rasanya dunia berseri tumbuhan
kampus dipinggir koridor banyak yang berbunga! Aku berdoa dalam hati “Tuhan
izinkan Aku menikmati karunia-Mu. Berikan Aku alasan Kau memberikan Lahir dan Hidup.
Tuhan Aku lelah”
Memejamkan mata sejenak untuk merasakan tanpa melihat, itu
rasanya menjadi morfin semu Aku. Namun Aku terkejut dihadapanku kini, berdiri
seorang laki-laki umurnya sekitar diatas Aku tiga tahun, memakai celana hitam
tatanan rambutnya rapi sedikit ikal coklat dengan kemeja berwarna mocca berkaos
hitam. Aku menaruh perhatian pada sendal yang dikenakan terlihat seperti
akar-akaran di film fantasi disney, aneh.
Terlebih kalung perak berbentuk bulan sabit menlingkari lehernya.
“Boleh temani Aku kesana?” sambil menunjuk taman disebrang
Aku berdiri.
“Oh iyaa boleh. Disana indah ya? Aku baru tau loh kampus kita
ada taman dengan bunga bermekaran dan tanaman yang seolah-olah nampak berseri”
Aku menjawab berusaha dengan semangat
walau Aku merasa suara ku sangat pelan.
“Boleh Aku pinjam bukumu Agna? Atau aku panggil saja Ara?”
dia menatap kosong kedepan kearah air mancur yang tingginya sekitar 2,5 meter.
“Oh iyaa iyaa boleh”, Aku bergegas mengambil buku ku yang
ternyata NOTES harian ku!
“Hmmm. Okey pinjam yaa. Gakpapa kan?”, diambilnya buku
berwarna tosca sambil tersenyum kepadaku dengan senyum tipisnya dan lengkungan
matanya yang agaknya hampir menyerupai kalung bulan sabitnya.
“Oh iyaa gakpapa. Kalo boleh tau kok kamu tau nama Aku?
Kayaknya Aku gak pernah liat kamu sekitaran kampus”, tanya Aku keheranan
sembari was-was memperhatikan notes ku yang sekarang ditangan orang asing itu!
“Oh yaaa Aku Vee. Pentingkah Aku memberitahu mu Aku tau kamu
dari mana?” dia menengok sekali kearahku.
“Bisa yaa bisa tidak”
“Aku akan memberitahumu nanti”, dia meneruskan dan membiarkan
jemarinya menari diatas notes ku dengan lihainya.
“Boleh Aku panggil Rana? Jadi Aku tidak binggung harus
memanggil Ara atau Agna”
“Hah? Ohh iya tentu boleh Vee. Kenapa tidak?”
“Kamu kenapa kok nangis?” tangan kirinya mengarahkan dagunya
agar menghadap kepadanya
Aku menunduk.
“Aku membohongi banyak orang. Apa kamu pikir Aku ini jahat Vee?
Apa Aku egois jika menginginkan diriku. Apa Aku gila membiarkan Ara bersedih
dan Agna berbahagia? Semua orang bersikap seolah-olah Aku ini boneka mereka
menginginkan Aku mejadi kuat seperti yang mereka mau, menjadi ceria seperti
yang mereka mau dan banyak peran yang harus Aku mainkan. Aku yang jahat atau
mereka yang jahat. Bagaimana menurutmu Vee?”
“Dunia terlalu luas untuk memikirkan yang orang lain lakukan
padamu dan Kamu terlalu indah untuk menyia-yiakan waktu mu untuk bersedih. Kamu
boleh membara atau membiru, berikan sisa ruang hatimu satu titik saja, dimana
gak ada satupun yang bisa menghancurkan kamu. Retaknya jangan sampai patah.
Remuknya jangan sampai hancur. Lihat kupu-kupu yang rapuh itu terlihat indahkan
juga sayap tipisnya kuat menopang dirinya terbang kesana-kemari. Seperti itu
Rana”, dia menunjuk kupu-kupu berwarna biru dengan pulpen berwarna keemasan
miliknya.
“Bersedihlah. Lepaskan sesakmu”, dia memegang erat tanganku
yang mulai bergetar.
“Vee, kalo dunia itu indah kenapa Adam dan Hawa malah di
hukum turun ke dunia? Aku rasa Tuhan tau bahwa dunia memang sekejam ini”
“Dunia akan memelukmu ketika orang lain tak ada disekitarmu.
Kamu tetap berpijak di tanah, bernafas dengan oksigen disekitarmu Na. Dunia
memelukmu selalu dan akan tetap begitu. Tuhan tau itu.”, dia mengembalikan buku
notes tosca Aku dan memberikannya padaku.
Aku memegang erat genggaman Vee menatap kedepan, membiarkan
sekali lagi morfin ku bekerja dan air mata yang tak terbendung untuk setiap
tangisan malam, amarah dikepala dan biru yang Aku rasakan.
***
“Agna Agna Agna! Bangunn”, suara Nia samar-samar terdengar di
telinga.
Aku mencoba perlahan membuka mata Nia ada disamping ku,
diruangan yang serba putih dan selang infus yang ada di tangan kiri.
“Alhamdulillah Agna... udah enakan?”, ucap Nia dengan senyum
bahagianya terpancar.
“Gue panggil keluar sebentar yaaa, mau ngabarin Mama lo”,
ucap Nia sambil memegang lengan ku.
Aku mengangguk.
Tangan kanan ku terasa memegang sesuatu, Aku berusaha susah
payah mengerakkan lengan ku melihat apa yang Aku pegang.
Buku Tosca!
Aku perlahan membuka lembar demi lembar notes yang berisi
banyak hal dari materi kuliah, rencana kepanitiaan sampai curahan diri. Aku
menemukan dilembar tengah bertinta emas. Vee!
Sahara Agnasina.
Nama terindah yang Aku pernah
dengar begitu juga dengan sosoknya, sorot matanya yang tajam, bahunya yang
kokoh dan juga tangan yang kuat. Aku rasa dunia yang Rana inginkan sebenarnya
ada didalam dirimu. Yaa, dunia ada didalam dirimu, Na. Terimakasih sudah
memilih menetap sejauh ini walau rasanya langit tinggi kamarmu merendahkan mu,
dinding kamarmu membatasimu dan pikiranmu menelanmu perlahan.
Jadilah bunga ditaman
yang kita singgahi pagi ini. Banyak orang yang tak sadar keindahannya ketika
belum bermekaran namun hasil perjuangannya sangat Indah. Masih ingat dengan
kupu-kupu berwarna biru? Aku sengaja membawanya dan membuka toples saat
ditaman, untuk kamu liat betapa Tuhan memberimu banyak karunia-Nya. Jadilah
kupu-kupu yang sayapnya tipis namun kokoh untuk menopang dirinya meninggi bebas
diudara. Aku beritahu namanya, ia Rana. Aku terinspirasi dari sosokmu, tapi
kamu tak sadar itu.
Tetaplah berusaha
berteman dengan hidup kamu akan menemukan cara untuk menjalankannya dan
mencintainya. Seperti Fiersa Besari yang mencintai seseorang “tanpa karena”,
aku harap kamu melakukan hal yang sama terhadap dirimu. Kalo merasa dunia ingin
runtuh ingat pesanku. Aku merasa beruntung bertemu denganmu, Rana. You are an
Angel.
Note: Aku tak akan
membiarkan kamu bersedih sendiri Aku meninggalkan sesuatu dibuku iniJ
Aku meneteskan air mata.
Terima Kasih, Vee. Terima kasih banyak.
Dan Terima Kasih Tuhan atas jawaban dari doa ku.
Aku tutup notes tosca, namun ada sesuatu yang terjatuh kalung
perak bulan sabit Vee dan foto hitam putih ketika aku memejamkan mata di taman memegang
buku tosca, memakai kalung perak bulan sabit dan tanpa Vee disampingku. Dibelakangnya tertulis
Rana kau masih punya harapan, harapan itu ada di kata Pertama
Kini Aku paham, satu-satunya yang bisa menyelamatkan ku ada pada diri sendiri. Harapan tak perlu dicari lagi, semua sudah mati. Tersisa hanya, Aku.
Rana kau masih punya harapan, harapan itu ada di kata Pertama
Kini Aku paham, satu-satunya yang bisa menyelamatkan ku ada pada diri sendiri. Harapan tak perlu dicari lagi, semua sudah mati. Tersisa hanya, Aku.
Sahara Agnasina, 2019
(Jika ada kesamaan nama penulis mohon maaf karena hal tersebut tanpa ada unsur kesengajaan. Selamat Membaca)

Komentar
Posting Komentar