[#1 I DO]
The first thing that came into my
mind, I’ll tell you what i feel. I was 20 years old last years, exactly
november 23rd.
I’ve been thingking about
apologizing someone, but i know it isn’t easy to do. I need to heal myself
later when I said, “It’s okay. Time will passing by and all is done.” I was
angry, everything just terrible.
I didn’t believe in friendship, I
don’t wanna put my heart for anyone or anything. I don’t wanna take a look at
social media, I often ignore them, especially my friend. I told them at that
time we are not the same like yesterday, we have our own bussiness. So, I hold
on and tryna carry on my life.
But wait. No... how long time was
running so bored? How long I must carry uh waw... It’s heavy enough actually. I
wonder did I do the right thing?
After I gave my apologize for
someone. I give apologize for my ownself. One important thing I realized
lately.
I take a breath, a deep breath.
Once, twice, three times... more and more. I forget I live in beautiful world,
seven billions people in the world with different culture and characters. I
know the universe want me to be stronger. The destiny I never expected come no
matter what happened—is it a good thing or bad thing. I feel blessed right now,
God knows me better, I should find myself anyway.
Cheers!
-----
@nisathena nulis terus ya, tik!
@vernzr Cheers!! n the important
thing that u’ve to realize is make peace with the situations
@luqmanstr dont forget eat,
sleep, n laugh
@rin.dyaniann Senyum terakhir be
like : “yaudah lah, senyum aja”
@annwidyawati You heal & you
grow... Your next chapter is going to be amazing !!!
[#2 A Knowledge]
I write this post with careful
and mindful. I’ll talking about school. What is on your mind? Do you think
mathematics is your nightmare? Is sport our favorite subject? Or you really
wanna go home soon? Happy for having classmate?
I will start when i went to
elementary school i got punishment because not memorize multiplication yet. I
was fallin love with sains.
I went go to high school,
vocational high school i never know before “what’s SMK?”, my mom just tell me
“i suggest you dear go to vocational high school because im alumni of the
school. You can choose accounting major”. The power of makmak wkwk she aim on
me.
Over than 2 years im a student in
college. Which have different method it’s not like in the school. One day, in
my room i told to myself “what’s my purpose learn in school and college?”.
Started from elementary school until nowadays in college, i keep doing my
homework, i passing the exam, im going to class. At least ‘what’s i get? More
than fourteen years. Is that makes sense? Did i really get knowledge or just
obey the system, following the most people do?
However i still believe
“education is the most powerful weapon which you can use to change the
world.”-Nelson Mandela. Education treat me grow up being human and humanize the
others.
[#3 Naik Gunung]
Dulu gue selalu pengen coba naik
gunung rasanya kek apa si diatas awan trus bawaan yang keliatannya kek ribet
masak sendiri, bikin tenda, mandinya gimana dsb. Akhirnya berkat mereka gue
bisa ngerasain PENDAKIAN PERTAMA.
Thanks a lot @tirfatirfatir yang
udah berani ngajak gue, katanya gue orang pertama yang dia ajak, karena kata
fathir kalo ajak orang berarti orang yang diajak tanggung jawab dia WKWKWK. Ya
walaupun pas disono lo tidak bertanggung jawab dengan baiq wkwk canda deng.
Kalo naik gunung emang
bener-bener buat gue yang tadinya gak kenal sama dua makhluk selain fathir jadi
kenal L
si Olaf yang sukanya kentut pokoknya gak Olaf gak Dimas demennya kentut ishhh.
Makasih kepada dua orang tangguh bawain tenda dan amunisi makanan.
Oh ya selama pendakian ada aja
yang aneh dan diketawain ditengah-tengah treknya yang lumayan lah menurut gue.
Dari lagu kebangsaan dim dim chhota dheem, ngetawain kue bima sakti yang bikin
kuat hadeuhh apaan aja dah heran. Oke gue yang mayan sering minta break
diperjalanan awal, tapi lama-lama tentang waktu breaknya jadi lumayan lama.
Perlengkapan semua gue minjem dan
bener-bener di siapin, sepatu yang gue pinjem ternyata terlalu ngepas jadi
sakit kalo jalan jauh. sampe akhirnya beli sendal di niceso. Gak sampe disitu,
karena mau naik atau turun harus banget pake sepatu biar aman sampe gue turun
kaki gue merah semua dan jempol item wkwk
Walau gue gak muncak karena terlalu
dingin dan bocah-bocahnya terlalu males. Dengan dalih “puncak gak kemana ilah
tik”. Nanti kan bisa kesini lagi” “dingin”. Gue tetep kek bersyukut MasyaAllah
banget langit malamnya dan bener-bener gue kesana embunnya jadi es, -2˚ C
dan ini termasuk rejeki bisa ngerasain es. Emang si kek di freezer kalo malem.
Tapi disana masih ada sampah yang
ditemuin, padahal kawasan ini termasuk taman nasional. So kalo naik gunung
harap bawa trash bag sendiri ya, nanti dibawa turun. Edelweisnya di savana juga
indah banget tapi banyak yang mati dibeberapa sisi. Takjub juga sama langit
yang biru banget pas pagi-pagi, saat itu Jakarta lagi tinggi banget polusinya
jadi gue kangen udara bersih dan langit biru. Jadi kapan kita muncak lagi guys?
[#4 Better World, Beautiful World]
Today we all know hot issues
Iran-America and in Indonesia we frequently find news about conflict Natuna
because Tiongkok claimed, Indonesian student in UK raped men and some a good
news like Pergub DKI Jakarta No. 107 to regulate citizen to plasticless.
But i done wanna talk about that.
Because i know you’ll find easily in Instagram, Twitter or News on TV or your
smartphone.
I wanna talk about Kevin Carter.
Who is he? He is a South African Photographer. What’s things make him special?
He decided to suicide after taking some photos.
I’ll show you some pic, you can
lauching browser for more information.
1. He’s
Kevin in his room
2. He
capturing the suffering of the Sudanese famine was published in the New York
Times on March 26, 1993. What happened with the girl? She was suffering and he
reports to New York Times that she have enough power (actually i confused to
post this pic but i think it need to show up. It’s hard to do for me)
3. He
spent a few days touring village full of starving people. All the while, he was
surrounded by armed Sudanese soldiers who were there to keep him from
interfering. He want help a little girl but the soldiers not allowed.
4. He
also focused to exposing apartheid issues (we all know it was over). He took
this moment.
He won awarfs, The Pulizer Price,
but it pressure on him. Even not directly led him, but makes him felt giuilt
and stress after accumulated documenting some of the most gruesome corners of
the world. His kindness and courage let the femine in Sudan became
internationally. All around the world know what happened in the planet on that
days. I know him when i joined DEI in campus, the speaker told me about him, it
made me speechless anyway. It’s pretty clearly show us this world still need
our hands, people out there suffering and the other side people pile property
greedily
Source:
https://allthatsinteristing.com/kevin-carter
[#5 Going On]
2019 berlalu dan seminggu yang
lalu adalah hari pertama untuk memulai segala dengan tertanggal 2020.
Kadang dari kita suka lupa nulis
tanggal di buku sekolah 08 Januari 2019 hehe. Aku baru tadi pagi juga melakukan
kesalahan yang sama saat administrasi di bank. Kesalahan kayak gini tiba-tiba
aku mikir sebenarnya kita ini masih diruang yang sama dan rentang waktu yang
tak jauh berbeda, kita hanya terus berusaha melanjutkan... tidak ada yang baru.
Perayaan-perayaan malam rabu
minggu lalu sepertinya tidak berpengaruh untuk orang-orang yang masih lembur di
kantor gedung tinggi, orang-orang yang harus keluar malam mencari botol plastik
di pinggir jalan, perawat di rumah sakit, petugas tj yang masih berdiri sigap
di halte dan aku yang berjibaku dengan tugas kuliah HEHE.
Diantara perayaan dan perlehatan
aku tak menghadiri apapun, hanya satu yang membuat aku terlamun kebelakang.
Lorong waktu 2019 seperti kabut senyap menuju cahaya, setiap langkah
menyusurinya terdengan sayup-sayup obrolan keluarga, keluhan temanku,
kebahagiaan orang terdekat, keluhan aku tentang kuliah (haha) dan beberapa ada
yang sendu namun tetap terdengar syahdu. Aku bersyukur.
Tentang Ibu yang bilang “Kamu tuh
udah pulang malam, kegiatan padet. Malamnya makan kek buah atau apa. Kalo tidur
kurang seenggaknya diimbangin makan banyak”
Tentang sahabat yang ada jauh
beribu kilo meter bilang “gue bersyukur kenal lo. Inget gak kita bermula dari
lo pc gue minta maaf WKWK” Okeyy it’s funny bruhh wkwk.
Tentang sahabat aku yang pantang
menyerah atas hidupnya bilang “gue bersyukur banget ada lo. Jujur gue sedih.
Makasih udah bilang harapan itu ada. Gue terharu”
Tentang temen aku yang gak bisa
marah wkwk bilang “lain kali jangan diulangin. Kalo ada apa apa bilang aja”
“tek udah pulang?”
Tentang kakak sepupu aku yang
bilang “makasih yaa tik udah mau bantuin yaa”
Tentang orang yang gak au kenal
barengin aku payungan pas ujan di kampus dan bilang “apa kita copot sepatu yaa
biar gak basah?” serius kak kamu cantik banget rambut khas Timur dan bulumata
eksotis, maaf aku lupa namanya, btw semangat S2 nya heheu.
Banyak kata yang membuat aku
memilih bersyukur, merayakan hanya didalam hati dengan tentram.
[#6 Australia Burns]
Semua yang ada dibumi sama
pentingnya dengan ‘kepentingan’ kita (re: manusia)
Dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya
dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat
kepada orang-orang yang berbuat kebaikan (Q.S. AL-A’raf: 56)
Australia menyusul kemarahan
Borneo dan Amazon
Wheter climate change or
irresponsible person/company. We should pray for better world for human,
animals and plants.
Koala sleep for up to 18-22 hours
each day. Now i know koala is #kaumrebahan
[#7 Ini tjku, mana tjmu]
Kalo ditanya 24/7 dihidup gue
yang tak bernyawa jawabannya ‘transjakarta’, gak mau ngetag ig tj ah nanti nge-fly wkwk. Sejujurnya gue malu si berbagi
kisah tentang ini tapi gue hanya ingin berbagi perjalanan gue yang bener-bener
perjalanan alias naik tj. Mungkin bisa dibilang gue pernah merasa badmood, meredakan amarah, nangis,
kesel, sibuk baca materi ujian, ngobrol sama stranger dan diem-diem aja gitu main hp.
Koridor 9, koridor yang bisa
dibilang koridor kesayangan gue. Gak tau berapa jam menit detik gue abisin
waktu disini entah berdiri karena masih muda atau duduk kalo lenggang dan hoki.
Beberapa kejadian unik kadang memberi kesan untuk gue. Sekelompok orang tuli yang
komunikasi berdiri ngebentuk kayak lingkaran dan gue di pojokan cuman bisa liat
ke kanan liatan keramaian lampu mobil ditengah-tengah kegelapan. Gue merhatiin
mereka dengan ekspresif mukanya dan jari yang lincah. Mereka BERGEMURUH
diantara senyap penumpang tj, yang kedengaran cuman suara mesin dan ban
(mungkin). Gue merhatiin samoe seinget gue mereka turun di Tamini Square dan
gue lanjutin ke halte terakhir, Halte Pinang Ranti.
Gak lupa terimakasih juga sama tj
koridor 10 yang penuh terus dan kadang barbar L
untung ada tj koridor 7, yang membantu gue dan senengnya langsung ke halte UNJ,
yayyyy!
Jujur selain gue menghemat dan
kebetulan halte lumayan deket rumah. Gue menikmati setiap perjalanan selain
jadi tempat mikir tetiba aja mikiri ini itu spontan diperjalanan, ngabisin
waktu ngobrol sama temen yang seaarah, ngalamin kejadian aneh/ liat yang baru
dan ngerasain susah senengnya naik kerndaran umum metropolitan. Oke thanks for
all, tj! Tapi tetap perhatiin keamaan diri yaa di perjalanan.
[#8 Born To Be Alive]
Banyak cerita datang-perginya
manusia entah kembali menjalani hidup yang berbeda jalan atau kembali
kepangkuan Tuhan yang Kuasa.
Kalau Tuhan berkata tentang
pertemuan, waktu dan semesta akan melaksankannya tepat janji tanpa bantah.
Kalau Tuhan telah berkata tentang perpisahan, waktu bergulir dan semesta
bergeming aku-kamu-kita tak akan ada yang bisa melawan.
Sampai pada titik adanya jalan
yang sama kembali, dimana kita bisa berjumpa dengan alasan entah berbeda atau
sama seperti sebelumnya.
Kita hanya harus siap mengetuk
pintu demi pintu yang ada didepan, bawa kuncimu dan bukalah tanpa ragu. Kita
terlahir untuk hidup, mau tak mau beranikan saja melanjutkan jalan ini kalau
ragu membuka, bagaimana kalau kita coba mengetuknya dahulu?
[#9 Craziest Idea]
I’ve dreams. All of us have
dreams. If someone telling you their dreams please just dont break them down.
We never know the future, we just tryna give our best, althought it might can
be broken. Just dont stop some people misunderstood they dont know what we feel
when we must bury some of our dreams. It hurts sometimes, but then we must wake
up.
My friens told me nowadays the
world need idea and something useflness. We dont talk about money, rich,
glamour, branded brand or ascendancy. We need people who have craziest idea,
then make deal with commitment and ACT certainly.
As a student in college i
realized i do nothing sustainable and afford a good impact yet, if you wanna be
someone worth, lookin for being useful person. So, what will you do then?
[#10 Sleep]
Santai sejenak. Rileks saja.
Tenang. Tak akan ada yang lari. Selepas berlari mengejar impian. Apapun
hasilnya tubuhmu bukanlah raga dengan kekuatan abadi, ada baiknya merehatkan
dia dari ‘perbudakan’ diri sendiri.
Kacau balau perduniawian, berapa
banyak bermain dengan emosi dan jiwamu bekerja keras untuk mengkondisikan diri.
Seberapa berat melakukan bebera[a tuntutan yang katanya untuk mengembangkan
diri. Seberapa sering menurungkan maksud diri dengan alasan ‘tidak enak’ yang
pada akhirnya berujung membatin sendiri.
Rehat sejenak, bukan tak sungguh
dalam berbuat. Rehat sejenak, bukan lari dari masalah. Setelah itu, bangkit
dengan jiwa yang utuh dan raga yang tangguh. Percayalah.
Jadi, kapan terakhir bisa tidur
dengan tenang? *p.s: jangan kebanyakan begadang yaa!
[#11 Try Again]
Doa, harapan, rancangan yang
telah dibuat mungkin belum sampai pada titik kamu mendapatkan sesuatu yang
diinginkan, padahal setelah itu akan ada lagi anak tangga yang harus dituju.
Sama seperti trial and error, menghabiskan jatah gagal yang kadang buat kita
stagnan. Tapi kalo dipikir ulang kenapa kita tidak mencoba lagi? Bukan gagal
yang kita takuti tapi kita hanya takut pada mencoba kembali, ‘try again’.
Siapa tau rejeki ada dipercobaan
kesekian. Who knows?
[#12 It’s My Fault]
Dulu pas kecil jalo kita jatuh
pasti orang tua marahin kita dengan sederhana, “duh gimana si kamu?” bahkan
kemungkinan kata serapah yang bisa keluar tapa bekal parenting.
Lain cerita, kalo kita jatuh yang
disalahin barang yang ada disekitar. Saking sayangnya orang tua sama kita waktu
masih lucu-lucunya, mereka bilang “gimana si lantai bikin sakit lutut dede kan”
“ihh meja kok gak liat-liat si adek jadi luka kan” saat kita jatuh atau kena
sesuatu yang membuat kita sakit. Awalnya bisa dibilang lucu si jadi anak cenderung
cepet berhenti nangisnya. Hal kayak gini bisa aku pribadi temuin sampai saat
ini. Padahal ini bisa jadi hal yang salah... secara gak sadar.
Pengakuan yang salah dianggap hal
yang rumit, ambil mudahnya saja ‘diam’ untuk ‘cari aman’. Pengakuan salah menjadi
hal yang agaknya enggan dilakukan dan menyalahkan orang lain menjadi
‘referensi’ atau terlalu menyalahkan kondisi (walaupun memang bisa jadi salah
satu faktor). Ingat didikan meja dan lantai yang disalahkan?
Dul guru aku pernah bilang setiap
didikan kecil bakal jadi alam bawah sadar kita, permainan bahasa dan situasi.
Kalo kita salah ada baiknya diarahkan saja “kamu jalannya pelan-pelan ya dek,
disini kan ada meja kamu lebih perhatiim, liat-liat ya lain kali”. Saat itu aku
menyadari, ada rasa sayang yang sama namun dengan building character yang berbeda.
It’s my fault, belajar bertanggung jawab atas diri sendiri dan
bukan hal yang salah atau memalukan untuk mengakui kesalahan. Setelah itu mari
perbaiki esok hari.
Komunikasi adalah Koentji.
[#13 Cantik]
Streotip yang bisa dibilang udah
menjadi culture di Indonesia. siapa bilang standar ‘cantik’ berdasarkan warna
kulit?
Basa basi yang basi “eh lo item
banget si’ ‘emangnya kek lo, item” menurut gue ini udah hampir mirip sama
diskriminasi gender atau ras.
Warna kulit bagian dari badan
yang pasti mencolok karena it’s cover the
whole of our bodies. Siapa sih yang bisa milih ‘terlahir’ dengan kulit
warna ini warna itu? Suatu hal yang dimana kita gak bisa memilih terlahir
dengan kulit warna apa. Entah gelap, sawo matang, putih, coklat, kuning
langsat. Streotip orang akan ‘kulit putih’ sebagai kulit yang paling baik,
berujung rasisme berdasarkan warna kulit.
Cantik itu beragam karena manusia
pun beragam @fallthenwinter sharing
cantik itu luka yang bisa menjelma jadi cita-cita semua perempuan tapi beberapa
tidak mampu menerima konsekuensinya.
Perihal usaha-usaha yang pernah
gue lakuin akibat ‘kemakan’ streotip yang salah pada waktu lampau membuat gue
agaknya jadi gak percaya diri. Selama gue lakuin itu, lambat laun menyadari
bahwa semua produk ‘whitening’ itu profit oriented saja perihal pemasaran.
Semua kata obrolan basa basi yang basi atas segala bentuk sesuatu berkaitan
dengan ‘looking’ sebenarnya itu
anugrah Tuhan. Tinggal kita yang bagaimana menerima diri kita dan mampu
memahami ‘cantik itu bukan perihal paras’ semata.
Dan akhir cerita, gue pengen
bilang semua perumpuan “kamu cantik!”
[#14 Politik Menggelitik]
Penguasa itu mati rasa
Konon katanya kerja untuk warga
Tapi malah memakan gaji buta
Kesana kemari meminta-minta
Mencari jabatan yang konotn
katanya misi mulia
[#15 Dileksia]
Di rumah itu, rumah murid aku ada
anak yang aktif sekali kesana kemari. Dia adik dari muridku yang terkena
dileksia, saat ini duduk di SD aku lupa kelas 3 atau 4.
Hari ini mamanya bercerita bangga
perihal kepiawaiannya dalam berbagai hal contohnya make up, kehumble-annya, caring-nya. Sehabis aku ngajar,
dijelaskannya padaku perihal kesulitan yang dialami anaknya, Lala. “Gak tau apa
dia nebak-nebak kali ya” pada waktu dulu ketika belajar angka dan huruf. “Uhh
dulu mah susah banget makannya gurunya ngira gak bisa” saat belajar ngaji.
“Tapi untung gurunya baik jadi kalo ujian dulu tuh kelas satu dibacain trus
dijawab, nanti sama gurunya ditulisin” perihal sosok guru dimana Lala sekolah.
Tapi sekarang Lala udah bisa J.
Cerita mamanya ingetin aku sama
film India, Taare Zameen Par (bahasa: Seperti Bintang-Bintang di Langit).
Tentang anak dileksia, apa yang terjadi pada si anak, respon lingkungan dan
bagaimana anak berkembang. Silahkan tonton kalo berknan, baguss dah! Emang
jujur sih Lala ini benar-benar bawa ceria gitu loh, paling humble di rumah tingkahnya seaktif itu.
Malam ini walau sedikit tau
tentang dileksia tapi aku memutuskan berselancar ke internet lebih jauh.
dileksia itu kayak suatu gangguan belajar pada anak-anak, yang lebih menonjol
dengan terlihatnya ada pada kesulitan membaca, menulis, mengeja atau berbicara
dengan jelas dan juga ada kepribadian sedari lahir yang membawa tingkah-tingkah
tertentu dibawah sadar anak. Lala misal saja pernah memasukkan anak kucing ke
kandang dengan ‘agak’ memaksa tapi dia sebenarnya mau kucing tidak kabut karena
Lala sayang padahal Lala dimarahin orang rumah karena ambil kucing dari
jalanan, masih kotor digendong kesana kemari haha.
Kesulitan belajar anak kadang
membuat orang ngiranya gak bisa, gak paham, gak ngerti-ngerti padahal si anak
memeiliki intelektual yang normal namun mengalami kesulitan tadi yang akhirnya
berdampak sama perkembangan yang lebih lambat daripada anak diusia yang sama.
Penting mengetahui dan diagnosis
lebih awal ke dokter karena kadang nggak sadar akan adanya dileksia. Kalo ada
tanda-tanda atau gejala tersebut, karena akan berpengaruh buat perkembangan dan
rasa ‘percaya diri’.
[#16 Just Pray]
Tak peduli apapun yang terjadi
dan apapun yang dilakukan. Baik, buruk, pemalu, pendiam, periang, banyak kata,
tetaplah berdoa dengan begitu tetap ada harapan yang kita ucapkan. “Berdoa
kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” Q.S. Al-Mu’min:60.
[#17 Perih – Perih Kebahagiaan]
Tak bosan manusia mencari titik
kebahagiaan dari satu tempat ke tempat lain berwujud sosok manusia atau alam
semesta. Aku pun sama.
Beberapa menghabiskan waktu
didepan perapian menatap sendu api dengan mata bergelinang. Katanya hati tak
bisa dipaksa, logika tak mampu mencerna emosi.
Beberapa menghabiskan waktu
menuju depan meja menyiapkan banyak perkara, sedang badan masih tergopoh-gopoh
kelelahan akibat lembur semalam.
Beberapa menghabiskan waktu
berjalan menyusuri kota dengan kaki beralaskan aspal saja. Raganya berharap
memiliki harapan sisa-sisa kota.
Beberapa menghabiskan waktu
menemani keluarga yang berdiam di kursi goyang tua sambil mendengarkan cerita
masa muda dengan senyum lebar dikedua pipinya. Pegang erat tangannya sambil
memperhatikan alur cerita.
Kebahagiaan agaknya lebih seperti
hasil barter yang kita lakukan dengan ‘perih-perih’. Beberapa usaha terasa
manis, namun tak jarang kita temui asam pahitnya juga.
Pada akhirnya kebahagiaan munvul
bukan karena menemui ‘kesenangan’ tapi perihal upaya kita menciptakan
‘kesatuan’ menerima kenyataan dan berkawan dengan segala rasa.
Kadang aku sendiri pun tersenyum
merasakan bahagia dalam berbagai bentuk rasa. Perih-perih kebahagiaan membawa
aku berucap dalam hati “Thanks God I’m alive”
[#18 People Change]
Yang sampai saat ini tak aku
pahami mengapa orang begitu cepat berubah atau aku yang memang salah?
Salahkah aku padamu sehingga
sejak aku bercerita tentangnya, menyapa pun tak sampai menjadi niatmu kala mata
berpapasan. Lucunya saat aku berjalan kamu menyapa teman-temanku dan aku tidak,
sampai detik ini,
Maaf, jika memang salahku. Kamu
memang sempurna tapi aku tidak, tapi tetap saja aku tak bisa menerka-nerka
tindakanmu dan membenarkan tindakanmu hanya karena—aku mengagumi dia yang
ternyata kala itu sedang dekat padamu.
Sungguh, aku ingin tau mengapa
kamu lakukan ini?
Benarkah kesempurnaan itu
terletak pada penampilan semata? Agaknya kau terkejut dengan sikapmu sampai
hati melihatku seperti angin berada berwujud namun tak kau hiraukan
keberadaannya.
Benarkah kesempurnaan itu hanya
untuk orang-orang yang paham khalam semata? Sehingga aku yang sedang belajar
dianggap diluar zona ekslusifmu yang kau banggakan itu. Bahkan aku bisa menjadi
sampah dimatamu bukan?
Aku paham tak ada hal lagi tak
ada guna memaksakan kehendak dan maksud diri agar kamu tak bersikap demikian.
Namun kini, aku lebih bisa menjaga diri sendiri dan memilih raga mana yang bisa
menerima apapun dan tahap manapun diri ini sedang belajar tumbuh.
Not: inspirasi kisah ini diambil
dari salah satu seorang teman Tika. I do love her so much!
[#19 Buy What We Need]
Terinspirasi juga dari
@zerowaste.id_official dan @tukarbaju_ tentang less waste, btw ada 30 hari challange dari @zerowaste.id_official
tapu aku mutusin belum ikut.
Sebelum menengok lebih jauh
tentang Zero Waste jaman maba kali yak wkwk. Karena pemberitaan dan banyak
dibahas adalah plastik terutama dilaut aku mensimpulkan dengan cepat dan
sekilas ‘waw sampah plastik banyak banget’ tapiiii ternyata salah, sampah
terbanyak dihasilkan dari fashion
atau limbah tekstil. Yeepppp, baju-baju yang kita beli gak kepake itu yang
entah arusnya kemana.
Bahan kimia, polysteren, spandek
menunjukkan adanya material plastik didalamnya. Tentu saja sama halnya dengan
plastik jika mikro plasti terlepas maka bisa mencemari lingkungan.
Eittsss banyak hal kenapa kita
beli baju baru. Jujur saja salah satunya pasti mengikuti tren pasaran yang
dapat dipastikan selalu berubah-ubah, sehingga terjadi permintaan pasar dan
untuk memenuhinya maka produksi fashion terus
dilakukan secara masif.
Tak bisa dipungkuri emang seperti
tidak ingin disebut ketinggalan jaman atau tidak trendi dengan pakaian yang
kita pakai tapi ada satu hal yang bisa kita lakuin. Sadar gak sadar fashion akan berputar itu-itu saja, saat
ini tren kembali pakaian ala-ala vintage, kemarin sempat booming hitam-putih.
Hal simple yang bisa kita lakuin
adalah ‘mix and match’ baju-baju yang ada. padahal bajunya itu-itu saja hanya
ditukar atasan dengan bawhannya. Dikira baju kamu banyak! Haha. Kamu bisa
menentukan ciri khas fashion tersendiri.
Kedua—menerima baju turunan alias
dari pendahulu dikeluarga kayak ibu, tante, kakak sepupu dan memberikan baju
kamu ke adik sepupu, adik, keponakan dst. Jujur ini berlaku dikeluarga aku sih
wkwk. Bisa dibilang hampir 50% aku itu pemberian turunan. Btw gak tau kenapa
baju jaman doeloe awet :’) @zerowaste.id_official mengutip Sarah Lazarovic
dengan teorinya ‘buyerarchy of need’ membahas dan memikirkan ulang mengapa kita
memutuskan beli barang baru. Silahkan dicek! Banyak banget info yang bisa didapat.
Jadi kalo gini bisa tetap fashionable dan menjaga alam bukan?
*p.s.: ada baiknya membaca more details tentang zero waste maupun
tukar baju di Instagram. It’ll be worth it!
[#20 Nulis]
When I was a child, I have a book
that we known as diary boook, like others little girl, I have one. I dont
really remember the book but I got it from TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) as a
reward because I won the runner up place
in calligraphy colouring competition.
I wrote what I feel when mom mad
at me, my uncle grumpy, my knee got bloody because I’ve fallen from my bycycle,
my friends at school, my friends at home and also my friends at TPA, etc.
When the book finally reached the
last page, I was saving my money, no food, no something new I bring back to
home because I need money to buy a new diary book and it’s special because
there was a lock on it HAHA.
Ok, that’s the story about
‘writing’ in my childhood. Even right now I am still writing but not often like
when I was children. But, I admit it, when I write something it taste
different, exactly in emotional.
I really like to write down
everything I’ve been through. Feelin so emotional without emotions, like I
speak with the words and the last: I have my spirit back.
[#21 Silent]
[#22 Myself]
Kadang diri ini lontang-lantung
gamang menghadapi kerasnya hidup dibumi. Lari dari kenyataan padahal kenyataan
seperti bayang-bayang diri sendiri—selalu mengikuti.
Pagi membawamu pada kenyataan
hidup harus ‘diawali’ secercah harap itu ada ditengah-tengah gagap gemertak.
Siang menyapa bahagia ditengah
kesibukan mengejar mimpi, katanya.
Sore menghadap langit senja
beradu syahdu antara siang tadi menuju malam tiba, syukurku indahnya hari ini
kepada-Nya.
Malam memaksa diri berkata ‘hari
ini cukup’ menaruh buku diatas meja, menggantung kemeja dan sembari
makan-makanan kesukaan. Setelah merebahkan diri namun kadang sudut kamar
seperti memata-matai membuat diri ingin meratap ‘setelah ini apa lagi?’. Kali
ini memutuskan bangkit sejenak menulis diatas secarik kertas. “Setelah ini apapun
yang terjadi, hanya aku yang bisa menolong diri sendiri”
Esok hari.
Pagi.
Siang.
Sore.
Malam.
Adakah diri ini yang mampu
menolong aku? Aku jawab ya seperti bayang-bayang yang mengikuti, selalu ‘ada’
mengikuti.
[#23 Passed It]
Sesering-seingnya has nini itu
gak karuan dari yang serius atau sekedar ‘wkwkwk’ sampai saat ini kadang masih
kehilangan kata-kata yang bisa menggambarkan betapa syukurnya ada @nisathena di
planet biru, bumi.
Singkat saja agaknya bahasa dan
kosakata yang aku punya belum mampu menembus turbulensimu yang semakin hari
nian kencang.
Terimakasih telah mencoba
mengerti setiap ucap dari keributan kepala dan keraguan hati. Kalo kata
pujangga sekian purnama telah dilewati oleh ‘kita’ menjadikan jurnal yang
berisikan bisikan-bisikan harapan, sesekali mengubur mimpi, patah aral
dipersimpangan jalan, menepi hanya untuk bergurau atau berbagai kebahagiaan
saat hujan datang. Maafkan aku yang uska bercerita yang aneh-aneh saja haha.
Terimakasih telah mengajarkan
rahmat-Nya memang tiada tara dan orang-orang yang memahami, membersamai—nyata
adanya. Hidup memang selalu dihadapi ketakutan-ketakutan yang harus dihadapi
bukan?
Aku harap kamu bia melewatinya
satu per satu. Sabar saja, aku tau setelah ini bunga matahari akan bersemi
kembali.
[#24 Me Time]
Berasa jones banget apa masa
sendiri?
Yaa kali gue nonton sendiri.
Yaaaa ajak kek gitu temen lo
siapa aja.
Another plot twist.
Gak gue sendiri wkwk.
Lebih free juga kalo sendirian.
Kalo lo bisa nonton sendiri
berarti lo dewasa
-----
@yunisalst can’t more agree!
Wkwkwk
@izzatifareva nonton sendiri itu
seru loh, ya kek lagi nonton Youtube aja di rumah tapi layarnya geude wkwk
@nisrinasukmadyanti me: sendiri
@annwidyawati can relate :D 100
[#25 Magic Words]
Say 3 magic words: thanks, sorry,
help. Tiga kata yang sangat amat santun agaknya setiap orang bisa luluh dan
melunak dengan kata itu. Percakapan – percakapan rasanya kurang afdol kalo gak
pake tiga kata itu.
Ambilin dong pensil gue—tolong
ambilin dong pensil gue
Gak tau—maaf, kurang tau deh
Ini gue balikin buku lo—makasih,
ini gue balikin buku lo
Sangat manis!
Tapi kali ini ada ‘magic words’
tersendiri buat diri, setiap kali goyah, setiap kali deg-degan entah takut atau
senang, setiap kali lemah, setiap kali jengah dan hal-hal yang memaksa diri
untuk bertahan dan bangkit. Kadang keadaan gak kondusif pun tetap dituntut
rasa—mohon untuk tidak gegabah dan salah langkah.
1. Oke,
ini pasti nanti akan lewat juga. Detik, menit dan jam akan bertambah, PASTI GUE
BISA LEWATIN.
Kalimat suggest yang gue lakuin saat bener-bener
crowded atau gak tau harus apa. Ini
membuat gue agak tenang atau bahkan terlihat santuy haha padahal kadang
didalamnya bisa sangat bergejolak berusaha keras.
2. Oke,
secukupnya saja yaa “it’s ok to BEING SAD”
Kalimat yang
agaknya gue seperti merelakan diri menghayati lebih jauh. memilih untuk tidak ‘pretending to be happy or etc’ ‘hide
yourself when you get down or how can you struggle, just show up your glory’. Selepasnya
ada rasa lega, berterimakasih untuk tidak memaksakan diri sendiri dan
menghargainya tentu J
hari esok adalah waktu yang tak diduga-duga, berbahagialah hahaha.
[#26 To Be Continue]
Pikirku telah sampai.
Pikirku telah sampai menemukan
jalan.
Pikirku telah sampai menemukan
jalan keluar.
Nyatanya aku hanya kesana kemari.
Membuka lembaran, menyelesaikannya
dan buka lembaran baru.
Menelusuri jalan, menepi dan
kembali pulang atau berpindah ke lain tempat.
Mengisi tenaga, menggunakannya
dan mengisi kembali yang kering.
Tak heran kalo di tivi aku sering
melihat sinetron kesukaan ibu ‘to be continued’ diakhir cerita.
Sama seperti kisah perjalanan
kita, setiap cerita bukanlah akhir, besok akan kembali berlanjut. Sampai jumpa
dipersimpangan jalan, tapi pastikan jangan menunduk aku ingin melihat matamu.
Kadang sesuatu yang sulit untuk memulai untuk bercerita, tapi mari duduk sejenak bicarakan saja dahulu dan mari kita coba memahami untuk saling memiliki.
Komentar
Posting Komentar