Entah apa yang dipikirkan Adam saat masih berada di Surga meminta teman katanya Tuhan yang Maha Penyayang dan Maha Pencipta mengabulkannya dengan hanya “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu “Perempuan” “Wanita” Lalu kita kenallah ia dengan “Hawa” perempuan pertama menjadi permulaan perbedaan.
Hawa sangat kental
dengan cerita yang memakan buah terlarang karena tergoda bisikan syeitan.
Ceritakan padaku jika kamu punya cerita lainnya tentang Bunda kita, Hawa.
Terbesit dibenakku apakah Hawa memiliki kesadaran pada saat itu? Apakah Hawa
meminta dimengerti hanya karena perasaannya? Apakah Tuhan menghakimi karena
versinya yang sedikit banyaknya berbeda dengan Adam? Ternyata tidak kita semua
tau mengapa tuhan menghukum Adam dan Hawa, padahal hanya Hawa yang memulai
semuanya atau kita katakan saja syeitan yang memercikan apinya.
Yang diajarkan
kepada kami tentang dirimu adalah sosok perempuan yang mengikuti perasaan dan
prasangkanya karena bujukan syetan dan kejadian itu terlestarikan
sampai sekarang perasaan seorang perempuan selalu dijadikan bahan untuk
menjatuhkannya. Apakah ini warisanmu Bunda Hawa? Memiliki perasaan lalu
disalahkan.
Aku pula terlahir
sepertimu dengan label perempuan, bedanya aku terlahir diantara berbagai macam latar
lainnya, ras, warna kulit, pergaulan sosial, kesejahteraan ekonomi. Kami
terkotak-kotakan sekarang, kami beragam, kami melebur ada banyak perempuan
dengan paras yang berbeda. Tapi bunda bagaimana kau menjelaskan dirimu ke Adam
dan anak-anakmu? Kau berbeda.
Saat ini aku merasa sulit menerjemahkan diri ku
sendiri. Kau tau? Di bumi yang kau tinggalkan perempuan tidak cukup memiliki
identitasnya, pada dirinya melekat apa-apa yang diacapkan orang lain. Begini,
biar ku jelaskan pelan. Permulaan lahir, belum apa-apa sudah dianggap lemah itu
dulu bunda pendahulu jauh hampir seribu tahun yang lalu. Tak diharapkan,
menjadi beban, mewarisi tak mampu. Seorang bayi, belom sempat bibirnya berkata.
Beranjak anak, tak sekolah? kawin saja belasan tahun diserahkan. Bukan aku tak
setuju perkawinan, terkadang perempuan dijadikan solusi seperti benda hartawi
saja ditukar badan, pikir, jiwa kami. Tak urung pula direndahkan karena perasa kami,
kata lemah kian hampir-hampir saja lekat menjadi abadi (untungnya tidak,
harapku). Saat seperti ini Bunda, aku rasa kau perlu tau kami anak-anak mu jauh
terpaut ribuan ratusan bahkan aku tak tau jaraknya gerayang-gerayang menghantui
tak dimengerti mengawasi sekujur badan. Jika tak sampai, lisan mencoba
menjangkau memang bukan umpatan tapi direndahkan dilecehkan tak dilihatnya
pikiran, asal, usia, berbusana semua pun kena, kata-kata yang akan disimpan di
amigdala. Amigdala, secuil almond yang aku elu-elukan. Pada semuanya, menjadi
abadi memori melebur terkadang mencuat-cuat tanda panggung penerimaan harus
disinggahi sebagai pelabuhan terakhir.
Tapi... yang ku pikir perempuan itu sosok layik untuk ada di bumi namun kebanggaan kami seringkali bergandengan dengan tak pantas: perempuan jalang, perempuan lacur, perempuan geladak, perempuan nakal, perempuan simpanan. Apa aku pun bisa saja saat ini diposisi tidak cukup pantas?
Saat ini kami mulai terlahir menjadi cahaya setelah sirna beberapa purnama lamanya, orang pergi ke pusat kota bukan hanya untuk mencari sosok lain untuk singgah, laki-laki. Kami pergi menjadi diri kami, belajar menegakkan bahu dan mengangkat dagu. Berpergian memakai sepatu dengan kemeja kerah, sekalipun kali ini banyak pilihan yang kami bisa lakukan. Tak cukup sampai sini perjuangan kami, masih ada hal yang perlu kami benahi. Keturunanmu pasanganmu, Adam masih dapat ditemui yang baik, semoga membantu pula. Bunda, tak usah begitu risau. Kau pun seorang penyelamat. Saat ini kami ada karenamu, terima kasih untuk itu. Memahami turunanmu menjadi pembelajaran seumur hidupku. Menjadi perempuan dalam bayang-bayang.
Komentar
Posting Komentar