Phase of Being One and Only Child and Find Peace in Solitude

Perihal keluarga dunia yang sibuk membicarakan si sulung, si bungsu tak tertinggalan si anak tengah. Seperti adu nasib saling berdebat walau bukan tentang siapa yang salah - benar. Tulisan ini aku buat bukan tentang perdebatan tentu terkadang perdebatan adu nasib terlintas seperti akan lebih asik atau lebih-lebih lainnya. Yang tak bisa ku kendalikan terjadi, semua yang berlalu, semua yang tak bisa aku tolak, semua yang tak bisa aku ubah, berujung pada pembelajaran penerimaan lagi dan lagi. Banyak hal yang tak benar-benar aku paham, satu per satu seperti benang bukan merah mungkin saja warna-warni mengambarkan kalut kehidupan dan kesenangan didalamnya. Tumbuh menjadi anak satu-satunya, merupakan satu hal bagiku. Pandangan dunia terhadap orang sepertiku seperti sudah terskenario memang tidak semua orang perlu memahami kita dan disini aku hanya membagi sedikit cerita.

- sepi jadi teman
Kesendirian. Kesepian. Mengapa dua kata itu terlalu dirata-ratapi kebanyakan orang? Aku mulai mempertanyakannya sejak lama. Kesepian memang terkadang pahit. Lalu aku mendapat jawaban kesepian bukan suatu eksistensi tapi keadaan. Terkadang kita merasa dalam keadaan sepi walaupun seribu orang benar-benar peduli dan terkadang juga kita merasa sepi ketika memang kita sendiri. Tersadar ini bukan tentang keberadaan orang lain. Persepsi kita terhadap sepi, terhadap keberadaan diri sendiri, terhadap keberaan orang lain, terhadap situasi saat ini yang terjadi pada kita itulah yang akhirnya menimbulkan pertanyaan "am i lonely?" tak selalu "am i alone?" Aku bisa merasa senang ketika dalam kesendirian atau keramaian, begitupun bisa merasa sedih ketika dalam kesendirian atau keramaian. Jadi aku mulai memahami dan menghargai sepi sama seperti ramai. Keduanya seperti kembar bagiku.

Lalu beranjak dewasa (sedikit takut mengetik bahwa kenyatannya memang aku mulai memasuki dunia orang dewasa) tak ada yang perlu ditakuti dari sepi. Persepsi tentang sepi itu sendiri aku yang mengendalikannya. Sebelumnya sepi pernah membawaku ke titik aku tidak percaya dengan orang lain bahwa orang lain hanya peduli dengan dirinya sendiri dan urusannya sendiri. Aku hampir lupa sepi juga mengajariku berbicara dengan diri sendiri, berkompromi apa yang aku suka dan tidak suka, bahkan karena sepi juga aku senang mengotak-ngatik barang dirumah sampai bermake up ria sewaktu masih umur 6 tahun. Bahwa sepi bukan sesuatu yang terus menerus. Aku memilihnya menjadi teman, menamainya "solitude", sama seperti teman ada hal yang kita sukai dan tidak darinya tapi tidak menjadikan kita berhenti meninginkan, mencintai, merangkul dirinya. Aku akan kembali bertemu dengannya terkadang juga berpisah dan berulang pola seperti itu, juga menuntutku untuk tumbuh.

Temanku pernah bilang berdamai dengan kesendirian dia memilih untuk memelihara kucing dan meluangkan waktu bertemu teman-teman. Aku menjadi bernostalgia, bertahun-tahun hidup berdampingan dengan kucing (nenekku suka kucing, nurun ke anak-anaknya) tapi aku baru merasakan sayang tulus yang tak terbalas secara langsung sama pixi, kucing oren yang saat ini tinggal satu atap denganku. Aku pikir pandemi memaksaku untuk menyayanginya lebih lebih jauh dari sebelumnya. Aku yakin bahwa kucing dapat merasakan energi kita, saat kita sedih, saat kita memperlakukannya dengan baik, saat kita menunjukkan tidak suka ketika kucing bertingkah. Koneksi itu pula yang membuat beberapa teman-temanku sampai rela kerja demi royal canin kucing haha. Perihal teman, aku sangat-sangat bersyukur dikelilingi oleh orang yang memahami diriku, memberi rasa aman menjadi diri masing-masing, saling mendukung dengan tulus. Semoga kehidupan selalu mengiringi kita disamping perubahan-perubahan yang pasti terjadi dalam fase hidup. Sangat jelas, mereka punya peran di lain sisi solitude ku. I'm so grateful

- anak manja
Stigma klasik. Anak tunggal manja apalagi perempuan. Mungkin terkadang kita lupa, tumbuh sebagai anak juga bagian dari hasil pendidikan orang tuanya, hasil kasih orang tuanya. Apa yang diajarkan kepada orang tua kita akan berdampak pada kita. Pada kenyataannya, semua orang terdidik dengan cara yang berbeda. Malah tak jarang orang heran kok bisa anak tunggal mandiri? Loh emang bisa-bisa aja ga si wkwk. Jadi komentar ini cenderung seperti angin lalu, sama sekali tak menjadi masalah.

- sama sepertimu, berjuang juga
Aku sebelumnya tidak paham kenapa anggapan tumbuh menjadi anak tunggal terkesan spesial berlebih. Menginjak dunia kerja mendapat pikiran sudut pandang yang baru, sudut pandang orang tua. Kadang membuatku takut kelut, warisannya banyak ya enak dong.. kan kamu anak tunggal pasti banyak yang suka... sedikit shock karena belum pernah terpikirkan orang berpandangan seperti itu. Emang semua orang tak paham apa yang kita lalui yang terlihat terlintas dipikiran mereka saja.

Sedikit orang diatap yang siap mendengar dan berbagi cerita, terlintas apa rasanya dilindungi oleh kakak, cerita-cerita dengan saudara karena mereka cenderung punya pikiran yang hampir sama dengan kita tidak kaku seperti orang tua yang berbeda generasi, penasaran rasanya bisa minta tolong ambil ini itu sama adek haha, berantem karena berbeda selera atau yaa sekedar nanya PR mungkin. Hal tersebut tidak dapat dirasakan, sehingga menurutku mengasah emosi dan sosial perlu untuk keluar dari keluarga. Menurutku ini menyebabkan terdapat kesulitan tersendiri dalam hal berbagi dan memberikan kepercayaan. Terlebih kepercayaan karena semua mau tidak mau harus bisa dilakukan oleh si tunggal. Tidak ada pembagian tugas seperti kakak-adek pada umumnya. Semua dikerjakannya sendiri

Tidak kalah dengan anak pertama, anak kedua, anak ketiga dst. Sama-sama punya ambisi, tanggung jawab, tujuan entah bahkan dahulu aku sempat berpikir belajar dan bekerja seperti aku tidak punya (someone who will) back up (me). Hari ini, esok, entah kapan kemudian bisa saja dikeadaan 'i'm only own myself" untuk sampai dititik itu sepertinya itu juga yang mendorongku untuk develop my brain karena itu aset termahal. ya kan?

Generasi sandwich? harapan pertama dan harapan terakhir. yes, we are. That's what people expect on us. Kadang temen yang tumbuh menjadi anak tunggal juga sering membicarakan ini sebagai bahan adu nasibnya hahaha

- deal, accept it
Tak ada yang memberitahuku peralihan masa belasan ke dua puluh begitu hebat turbulensinya. Tak ada yang memberitahuku peralihan menjadi dewasa menguras energi dan pikiran. Tak seorangpun. Orang tuaku, guruku, teman sebayaku. Mulai memvalidasi, mengakui perasaan atas apa-apa yang melekat didiriku, semua yang berlalu tapi masih berbekas menjadi memori di kepala yang kadang berisik sekali kala peralihan tersebut.

Mengakui bahwa aku pernah mengalami kesulitan dalam berbagi kepemilikan terkhusus belakangan kemarin dengan sepupuku, kesulitan mempercayakan suatu tugas dalam organisasi di sekolah dulu, semuanya terkadang berujung chaos. Mungkin ini terlihat sepele aku yang tak mengerti, aku yang bisa saja terpancing emosi sedih atau marah ketika yang dilakukan orang lain tak sesuai apa yang aku bayangkan ketika aku memutuskan memberi kepercayaan dan berbagi. Kecewa jelas. Namun, tahap itu diperlukan sangat diperlukan untuk aku menjadi paham - untuk menghargai orang lain, menghargai batas diri (learn set my own boundaries), yang terpenting bahwa terkadang suatu hal tidak sesuai yang kita mau dan it's something normal to happened. Esok banyak hal lain yang berjalan tidak mulus, menuntut perjuangan dan kesabaran lebih. Aku mulai memberikan diri ruang menerima hal tersebut terjadi. Ruang yang didalamnya berubah-ubah. Entah aku yang berubah karena tumbuh, orang sekitarku berubah karena tumbuh, lingkunganku berubah karena tumbuh

- syukur dan makna harapan
Syukur selalu aku mulai dari Tuhan, Allah SWT. Kasihnya mengalir menjadi bagian diriku dalam sepi, ramai, gelap, terang, sukacita, dukacita. Aku pikir spiritual berperan besar dalam hidupku, terlebih dalam kesendirianku. Memahami ayat-Nya sebagai orang awam, teduh berasa sampai ulu hati. Terkadang juga seperti tamparan. Terkadang juga rasanya seperti memberi ruang aman. Berkali-kali tak terhitung aku selamat satu per satu aku lalui dengan karunia-Nya. Aku bukan seseorang religius kelihatannya pun tidak, tapi hati dan pikiran selalu kuselipkan doa agar Allah menjaga keimananku.

Ada juga syukur tak merasakan berantam sebagai adek-kaka. Tak perlu merasa yang lain disayang aku tersingkirkan (sebetulnya aku pernah merasa cemburu sama kucing haha dan sepupu kecilku, my mom loves kids so much), kebutuhan terpenuhi terfokus, hak atas barang jelas tak berbagi. Namun, masa kecilku serumah dengan sepupuku adalah hal lain yang mungkin menjelma menjadi alam bawah sadar yang mempengaruhi kehidupan sosialku saat itu hingga sekarang. Dapat memberikan perhatian, menemani, berkompromi ketika bermain. Mengajari aku kecil salah satu bentuk kasih dan cinta dalam keluarga. Setelah kupikir-pikir hidup dilingkungan sepupu memberikan suasana seperti persaudaraan adik-kakak. Jadi sebetulnya aku tidak sepenuhnya benar-benar tumbuh sendiri.

Harapanku, juga hal yang aku takuti. Menjadi satu-satunya seperti arus dalam yang deras. Harus bisa survive sedang orang melihat permukaannya tenang dan semua aman. Aku takut kehilangan aman yang tadi, khususnya jika suatu saat kehilangan Ibu. Bahuku rasanya mau runtuh, tak terbayang seperti apa. Tapi ini kehidupan yang perlu penghidupan apapun bisa terjadi, yang bisa kita harapkan diri sendiri.

Also thanks for Annisa Maudina, who gaves me an insight to write this

Komentar