Selamat Mengulang Hari

Selamat mengulang hari terlahirmu

Banyak terima kasih yang aku ucapkan dalam doa ku

Dari sekian banyak rejeki aku selalu bersyukur aku ada didalam tangkup tanganmu

Matahari mulai muncul di hari istimewa itu aku terbangun dengan melihat dirimu di tepi tempat tidur mengasihi diriku yang sepanjang malam tertidur dengan perasaan teratap gamang

Ibu, semoga aku bermekaran dalam hatimu menjelma sebagai rahmat juga anugrah dari Allah seperti namaku

***

Empat tahun lalu aku sangat takut akan mengecewakan dirimu

Yang terkasih telah pergi tinggallah dirimu dan diriku

Pagi itu tertanggal tiga belas januari, Ibu membawakan nasi kuning memikirkan apakah aku menyuap sarapan saat itu aku sadar Ibu selalu terlihat kuat dan aku tau memang begitulah dirimu

Lambat laun kita terus berjalan selama masih diberi waktu

Darimu lah aku mengetahui kasih tanpa kenal balas, setulus-tulusnya, sekeras-kerasnya dan begitu luasnya memang benar adanya

Dari situ aku sadari aku mulai semakin menyukai mendengarkan cerita yang Ibu lontarkan terutama diwaktu malam. Mulailah aku membagi waktu yang biasa banyak ku habiskan kamar yang aku sukai dengan duduk disampingmu untuk mendengarkan kata demi kata, tawa demi tawa, suram demi suram. Bersemangat menjelaskan orang yang tidak aku kenal menjelaskan asal mereka juga cerita sepele hingga sejarah yang berat berbobot. Terkadang aku terkesima karena baru mengetahui ceritanya

Bangunku tetiba lebih pagi, semua terasa lebih bergegas untuk diriku. Pagi terlalu dini malam terlalu larut

Sampai aku tersadar di matamu anak kecil itu telah menjelma sebagai gadis berumur dua puluh

***

Satu per satu banyak hal yang mulai aku pahami dimana ia bermuara

Aku kembali mengingat-ingat banyak hal sampai mengherankan memang bagaimana sebongkah otak dikepalaku bekerja. Sebagian orang mengingat secara detail adalah suatu anugrah tapi sebagian lagi justru malapetaka yang tak terbendung. Memori tak mengenali mana indah mana suram

Aku terduduk memutar kembali semua rekaman yang usang

‘Segelas susu coklat kesukaanku

‘Secangkir kopi hitam kapal api mix gula setengah saset kesukaanmu

Pekarangan rumah yang daunnya berguguran tak habis-habis sebelum matahari mengintip hangat di cakrawala timur bergegas aku menyapu. Aku ingat pohon mangga madu yang manis buahnya walau belum matang sempurna, pohon jambu air yang bunganya rontok dimana-mana ketika hendak berbuah dengan semut merah dibatangnya, pohon belimbung wuluh yang buahnya dipetik ketika masak sayur, lidah buaya yang sesekali tetangga depan rumah memintanya juga aku pakai untuk bekas jerawat maupun masker rambut, daun pandan yang subur didekat keran pam, tanaman pagar didepan pagar yang berwarna hijau muda, bunga bougenville didekat pintu kecil pagar, pohon melati yang sesekali berbunga putih-putih kecil, pohon patah tulang yang (katanya) getahnya menyingkirkan kutil di kulit, dan tanaman-tanaman hias yang aku tidak tau namanya. Setelahnya Ibu yang mengajariku untuk memberi sedikit reward membuat secangkir susu duduk didepan TV dari chalk zone sampai jam delapan pagi. Dulu aku tidak mengerti mengapa harus aku yang lakukannya menyapu halaman di pagi buta? Terkadang berpapasan dengan orang yang pulang solat subuh dari masjid. Mengapa tidak yang lain saja? Dengan terpaksa atau rela dengan malas atau senang toh tetap ku lakukan saja. Tak mengherankan jika kini arunika seperti membelai lembut diriku juga bertelanjang kaki di tanah pandang mata kehijauan seperti rumah untukku

Perjalanan demi perjalanan dengan motor duduk didepan sampai duduk ditengah. Perjalanan panjang dengan bus. Perjalanan dengan kedua kaki melipir dari rumah ke rumah. Entah siapapun yang ditemui Ibu aku hanya diajaknya. Entah hanya bercengkrama, silaturahim, urusan-urusan yang hanya orang dewasa mengerti. Obrolan kecil dari semua orang yang ku temui sejak belia membantuku ketika Ibu tidak disekitarku, untuk aku bercakap dan membuka duniaku sendiri

Siang menjadi malam. Malam menjadi siang. Ruang jahit yang terletak paling depan rumah tidak bisa diam sejenak sampai berfokus pada suaranya ketika berusaha memejamkan mata sampai aku terlelap jua. Pagi ke pagi. Malam ke malam. Dari pintu depan rumah hingga belakang rumah. Dapur yang terletak paling belakang rumah berasap untuk mengisi meja makan yang kosong. Mungkin memahami orang tua salah satu hal yang sulit bagi setiap anak. Acapkali warna yang muncul sulit untuk diolah kembali sinyal yang tak kunjung dapat ditangkap, petir yang menggelegar, larat yang terulang-ulang, anginmu mulai meracau, semua bayang seperti berputar berharap cepat berlalu. Sampai menemukan kembali dirimu. Diam-diam hayat ku berwarna lebih banyak dan lebih pekat

Semua cerah dan gelapmu. Tumbuh mengalir dari orang yang telah menyemai dirimu lebih dulu. Aku melihat di matamu mbah uti juga di tanganmu mbah kakung. Ketahuilah, Ibu gabungan yang sempurna dari keduanya. Caramu melangkah, mendidik, mengusahakan sungguh seperti ayahmu. Caramu meredam sedih, tertawa, menyayangi sungguh seperti Ibumu. Aku tersenyum ketika menyadari hal ini belakangan

Untuk segala suka dan dukamu, untuk segala suka dan dukaku

Akan aku upayakan berkali-kali, akan aku coba lagi dan lagi. Ketika etanol yang aku tuang untuk lukaku aku takut membuka perih pada lukamu. Nyatanya kini mulai mengering bersamaan

***

Empat puluh lima tahun tidaklah mudah untuk gadismu ini membaca

Kini setiap harinya aku melihat kembali raut wajah yang kian keriput bertambah-tambah juga senyum bibir yang masih merekah lengkung seperti bulan sabit

Kini setiap harinya aku melihat kembali langkah yang gagah itu mulai berjalan seperti padi yang mulai menguning

Kini setiap harinya aku melihat kembali tangan yang lembutnya masih sama, paling lembut juga paling kuat genggamannya yang kusadari nadi yang kian jelas

Seluruh garis yang ada ditubuhmu menyimpan memori dari dua puluh lima ribu sembilan ratus tiga puluh dua yang telah berlalu

Tak terbayangkan olehku seberapa jauh langkahmu, seberapa banyak wajah yang telah ditemuimu, seberapa air mata yang berjatuhan di ujung matamu, seberapa banyak upaya yang telah kau usahakan juga seberapa banyak hal yang telah kau relakan kau korbankan. Aku hanya bisa berkagum

Semua-mua yang kau bawa, menjadi dirimu

Sesekali aku pandangi wajahmu terkesimalah aku yang setiap harinya aku temui, tak menyadari semua dari kita menua dengan hebatnya tambahlah aku berdoa semoga Allah berkahi waktu yang ada

***

Terima kasih kataku,

Tak pernah cukup agaknya untuk segala yang diupayakan untuk bunga mawar terkasihmu

Aku sudah tau dari awal tiada hidupku di menara yang tinggi nan kokoh

Aku tumbuh menjadi akar ilalang bebatuan dalam barisan bersamamu

Pernah aku merasakan apakah dunia tidak pernah adil untuk seorang anak yang terlahir begitu indah namun penuh ketidaktahuan, terkadang aman itu palsu

Jauh dalam batinku, aku tau Ibu yang akan aku pilih untukku selalu aku cintai bagaimanapun mula dan akhir

Aku memilih untuk tidak berserah pada pusaran takdir yang tidak bisa aku sentuh, hanya bisa aku terima

Kini genggamannya terasa lebih ringan Ibu

Kini pelukannya sudah tidak berduri lagi

Aku telah meluas karenamu yang memilih untuk bertumbuh juga bersamaku

Banyak belajarlah aku, menatap lagi dan lagi dirimu yang kini indah dengan semua warnamu

Semoga Allah berbaik hati padamu memberi waktu lebih lama bahwa Ibu pantas berbahagia

Semoga Allah berbaik hati padaku memberi waktu untuk menjadi salah satu alasan bahagia Ibu

***

Komentar